Sekilas Info

Ketika Rasa Takut Membungkam Kebenaran

Azizi bersama keluarganya saat sedang menanam propagul (benih mangrove) di pesisir pantai Batu Bara, Sumatera Utara.

Sejak itu, setiap ancaman selalu bermuara pada pertanyaan yang sama.

Bagaimana kalau sesuatu terjadi kepada keluarga kami?

Teror yang berlangsung lama juga menguras energi mental. Setelah berkali-kali menghadapi ancaman tanpa merasa memperoleh perlindungan, seseorang bisa sampai pada titik ketika ia merasa apa pun yang dilakukan tidak akan mengubah keadaan. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari. Pada titik itu, memilih diam terasa menjadi jalan yang paling aman.

Irna menegaskan bahwa keberanian bukan hanya persoalan karakter pribadi, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kepastian hukum.

"Dalam lingkungan dengan kondisi rasa aman di mana hukum tegak dengan adil, maka keberanian akan lebih muncul."

Dengan kata lain, keberanian seseorang untuk mengatakan kebenaran tidak hanya bergantung pada wataknya, tetapi juga pada apakah ia merasa aman. Ketika hukum mampu memberikan rasa aman, orang tidak lagi merasa sendirian menghadapi ancaman. Mereka memiliki ruang untuk bersuara tanpa terus dibayangi rasa takut.

Sebaliknya, ketika intimidasi dibiarkan dan perlindungan terasa lemah, rasa takut akan lebih mudah menguasai. Orang-orang yang sebenarnya mengetahui kebenaran memilih bungkam, bukan karena tidak peduli, tetapi karena mempertimbangkan keselamatan orang-orang yang mereka cintai.

Kasus Azizi dan Supriana menunjukkan bahwa tujuan teror bukan sekadar menakut-nakuti seseorang. Tujuan akhirnya adalah menciptakan keheningan.

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Penulis: Dedy Hu
Editor: Redaksi DailyKlik
Photographer: Dedy Hu

Baca Juga