Ketika Rasa Takut Membungkam Kebenaran
Menurut Irna, ketika seseorang merasa tidak mampu menghadapi ancaman, respons yang paling sering muncul adalah menghindar.
"Pada saat tidak bisa melawan maka kebanyakan orang akan menghindar. Itu sebabnya mereka akan menghentikan perlawanan dan menyerah," ujar Irna.
Supriana akhirnya memilih meminta suaminya berhenti. Bukan karena perjuangan itu tak lagi penting. Tetapi karena setiap malam ia tak lagi tahu apakah esok keluarganya masih bisa hidup tenang.
Ketakutan juga mengubah cara otak bekerja. Dalam kondisi normal, seseorang mampu mempertimbangkan banyak hal sekaligus, mulai dari nilai, tujuan, hingga konsekuensi dari setiap keputusan. Namun ketika ancaman datang terus-menerus, kemampuan tersebut mengecil.
"Ketika seseorang mengalami ketakutan yang sangat tinggi maka perhatian mereka menyempit hanya pada ancaman."
Dalam situasi seperti itu, perjuangan bukan lagi prioritas. Yang tersisa hanyalah satu dorongan: menyelamatkan diri dan keluarga. Cita-cita memperjuangkan keadilan perlahan terdorong ke belakang.
Karena itulah, dalam banyak kasus, keluarga justru menjadi orang pertama yang meminta korban berhenti berjuang. Mereka bukan tidak peduli terhadap kebenaran, tetapi justru ingin melindungi orang yang mereka cintai dari kemungkinan pembalasan yang lebih besar. Ancaman yang semula ditujukan kepada satu orang akhirnya berubah menjadi tekanan bagi seluruh keluarga.
Itulah sebabnya Supriana tak pernah lagi memandang perjuangan suaminya hanya sebagai urusan menyelamatkan mangrove.








Komentar