Ketika Rasa Takut Membungkam Kebenaran
Orang tuanya tidak selalu memiliki uang untuk memberinya jajan. Namun Azizi tidak merasa kekurangan. Bersama teman-temannya, ia membawa tangkul lalu masuk ke dalam hutan bakau untuk mencari kepiting dan udang. Sekali menangkap, mereka bisa membawa pulang tiga sampai empat kilogram kepiting besar. Bahkan ada kepiting yang beratnya hampir satu kilogram. Hasil tangkapan itu dijual. Uangnya dipakai membeli jajanan.
"Dulu kepiting besar sangat banyak. Kepiting kecil tidak laku karena terlalu banyak. Sekarang mendapatkan kepiting kecil saja susah," kenangnya.
Namun keadaan itu tidak bertahan lama.
Sedikit demi sedikit, suara kapak mulai menggantikan suara anak-anak yang bermain di hutan bakau. Dapur-dapur arang bermunculan dan membutuhkan banyak kayu sebagai bahan bakar. Pohon-pohon bakau ditebang, sebagian dijual untuk perancah bangunan. Memasuki akhir 1990-an, semakin banyak warga membuka tambak udang. Kawasan yang dulu dipenuhi bakau berubah menjadi petak-petak kolam budidaya.
Azizi menyaksikan sendiri perubahan itu. Hutan yang membesarkannya perlahan lenyap. Ketika banyak orang menebang bakau, ia justru memilih menanamnya. Keputusan itu membuatnya dianggap aneh.
"Orang-orang di sini melihat saya seperti orang gila. Kurang kerjaan, menanam mangrove tapi tidak menghasilkan apa-apa," katanya sambil mengenang masa itu.
Pengalamannya mengikuti rehabilitasi hutan saat bekerja di PT Indorayon membuat Azizi yakin kawasan pesisir yang rusak pun dapat dipulihkan. Keyakinan itulah yang mendorongnya mengajukan proposal rehabilitasi mangrove kepada Dinas Kehutanan pada 2002. Setahun kemudian, proposal itu disetujui.

Pekerjaan itu tidak dilakukan sendirian. Bersama belasan warga, Azizi mencari bibit hingga ke Air Joman, Kabupaten Asahan. Selama lebih dari sebulan mereka bekerja mengikuti pasang dan surut air laut.








Komentar