Sekilas Info

Ketika Rasa Takut Membungkam Kebenaran

Azizi bersama keluarganya saat sedang menanam propagul (benih mangrove) di pesisir pantai Batu Bara, Sumatera Utara.

Sebab ketika rasa takut berhasil masuk ke dalam rumah, yang dibungkam bukan lagi satu orang. Yang kehilangan keberanian bukan lagi satu orang, melainkan seluruh keluarga.

Dan ketika keberanian menghilang, kebenaran kehilangan suaranya. Karena keberanian, sesungguhnya, hanya dapat tumbuh ketika manusia merasa aman.

Ketika Saksi Diam, Keadilan Kehilangan Mata dan Telinganya

Ketika keberanian menghilang, kebenaran memang kehilangan suaranya. Tetapi di ruang sidang, yang hilang bukan hanya suara. Yang ikut hilang adalah jalan menuju kebenaran.

Apa yang sebenarnya hilang ketika seseorang memilih diam?

Dalam perkara pidana, keputusan seorang saksi untuk diam tidak pernah menjadi urusan pribadi semata. Satu kesaksian yang hilang dapat mengubah arah sebuah perkara. Sebab, banyak kebenaran di ruang sidang bergantung pada keberanian seseorang untuk menceritakan apa yang ia lihat, dengar, dan alami.

Menurut pengamat hukum pidana Universitas Pembangunan Panca Budi Medan, Dr. Redyanto Sidi Jambak, saksi merupakan "mata" dan "telinga" hakim.

Hakim tidak pernah menyaksikan sendiri sebuah tindak pidana. Keyakinannya dibangun dari alat bukti, terutama keterangan para saksi.

"Kalau saksi takut, mereka bisa tidak datang ke pengadilan, mengubah keterangannya, atau memilih berbohong karena tekanan," kata Redyanto.

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Penulis: Dedy Hu
Editor: Redaksi DailyKlik
Photographer: Dedy Hu

Baca Juga