Politik Barbar versus Etika Politik
Harus dicermati dan dievaluasi aktifitas oknum birokrat tertentu di Alor yang mengimplementasikan paket-paket kebijakan publik yang terbungkus rapi dalam paket-paket kebijakan ekonomi, kesehatan, pendidikan dan infrastruktur yang terpolarisasi pada basisi-basis kewilayahan yang berorientasi pada aspek-aspek primordial yang bagi penulis, itu akan mengganggu visi-misi Djobo-Duru. Dan pada tataran ini lah tugas Djobo-Duru menghentikan itu semua.
POLITIK BARBAR versus ETIKA POLITIK
Bila kita flashback pada hampir 90 tahun lalu, kondisi di Alor pasca 2019 hampir dapat disebut mirip jika dianalogikan dengan perkembangan politik eropa di awal tahun 1930.
Pada 1930, Jose Ortega Y Gasset, menulis sebuah buku yang sangat terkenal ketika itu, La Rebelion De Las Masas dan telah banyak dipublikasikan dalam berbagai bahasa dunia, dua diantaranya yang sangat terkenal ketika itu adalah The Revolt Of The Masses dan The Opstand Der Horden.
Dalam bukunya itu Gasset menulis tentang situasi eropa yang bergolak termasuk kemunculan NAZIISME ketika itu. Dalam konsep pemikiran Gasset, frase massa dalam bukunya itu tidak merepresentasekan suatu lapisan masyarakat (social stratification) tertentu, melainkan manusia-manusia dengan kualitas tertentu yang oleh Gasset disebut sebagai The Modern Barbarism (Barbarisme modern).
Dijelaskan Gasset bahwa manusia dalam kualifikasi ini adalah mereka yang ingin mencapai tujuan tertentu, termasuk tujuan politik dengan menggunakan segala cara dan mengabaikan standar kehidupan politik yang bermutu.
Lebih jauh dijelaskan Gasset bahwa dalam massa tidak ada individu dengan kualitas mulia individual, kalau ada kaidah, itu adalah kemauan dari massa itu sendiri yang tidak ingin dikontrol oleh kekuatan dari luar.
Kebangkitan massa seperti ini pasti bergandengan dengan ketiadaan standar mutu kehidupan (politik), merebaknya vulgarisme intelektual, massa menghancurkan semua yang terpuji (excellent), individual, bermutu (qualified) dan berkelas (selected).
Bagi penulis, konsepsi pemikiran Gasset secara diametral mungkin saja berlawanan dengan kondisi awal reformasi 98 di Indonesia, namun seiring dengan berjalannya waktu, reformasi yang sudah merubah peta politik di Republik ini, pelan tapi pasti, kini secara linear berbanding lurus dengan kondisi eropa di tahun 1930 tersebut, tercermin pula pada nuansa gerak politik pasca 2019 di Alor sebagaimana paparan penulis diawal tulisan ini.
Ada kalangan masyarakat menyebut reformasi 98 telah kehilangan arah, sebagian menyebut reformasi yang kebablasan (Jawa: keluar dari pakem).
Munculnya perpecahan di tubuh Parpol, maraknya hoax, kondisi ekonomi yang tidak menentu, ancaman terorisme, munculnya vulgarisme intelektual dan semuanya itu dapat disaksikan secara live di layar kaca dan bahkan saling melontarkan ujaran-ujaran kebencian (hatespeech) dan itu tidak hanya terjadi di level nasional melainkan juga level daerah.
Penulis masih teringat ujaran kebencian seorang Lamboan Djahamou terhadap Djobo pra 2019 ketika kontestasi Pilkada Alor 2019-2024, ketika itu penulis membayangkan konsepsi Gasset yang sedang terjadi di konteks Alor, dan apakah Djahamou identik dengan massa dalam konsepsi pemikiran Gasset, manusia dengan kualitas tertentu yang oleh dia disebut sebagai The Modern Barbarism ? Penulis rasa masyarakat Alor bisa menjawab itu.








Komentar