Sekilas Info

Film Pesta Babi, Mama Yasinta, dan Cara Kita Bermedia Sosial di Tengah Banjir Opini

Oleh: Dandy Sitohang

Di era media sosial hari ini, sebuah potongan video berdurasi beberapa detik sering kali lebih kuat memengaruhi opini publik dibanding penjelasan panjang yang utuh dan mendalam. Orang mudah marah, mudah terpancing, lalu beramai-ramai membentuk penghakiman sebelum benar-benar memahami persoalan secara menyeluruh. Fenomena itulah yang kini terlihat dalam polemik film dokumenter Pesta Babi dan pernyataan Mama Yasinta Moiwend.

BELAKANGAN, FILM DOKUMENTER Pesta Babi menuai pro dan kontra. Di sejumlah tempat, pemutaran film ini mendapat penolakan. Ada anggapan bahwa pemerintah bersikap resisten terhadap film tersebut karena penggunaan diksi “kolonialisme” yang dianggap sensitif dan politis. Sebagian pihak bahkan menilai film itu sebagai propaganda yang menyerang pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Namun di sisi lain, reaksi penolakan yang muncul juga memunculkan kekhawatiran tentang menyempitnya ruang kebebasan berekspresi. Kritik yang disampaikan melalui karya dokumenter seharusnya tetap mendapat ruang dalam demokrasi, selama disampaikan secara bertanggung jawab.

Di tengah perdebatan tersebut, publik kemudian dihebohkan dengan beredarnya potongan video wawancara Mama Yasinta Moiwend, tokoh utama dalam dokumenter itu. Dalam video yang viral di media sosial, Mama Yasinta menyampaikan keberatan dan mengaku merasa dimanfaatkan dalam proses produksi film. Pernyataan itu kemudian memantik gelombang opini baru. Banyak orang langsung mengambil kesimpulan, membela satu pihak dan menyerang pihak lain.

Padahal, jika dicermati lebih jauh, situasi ini tidak sesederhana hitam dan putih. Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, Mama Yasinta dikenal cukup lantang menyuarakan perjuangan masyarakat adat Papua. Karena itu, muncul pertanyaan publik mengenai konteks utuh dari video yang beredar tersebut. Apakah pernyataan itu mewakili keseluruhan sikapnya? Apakah ada konteks yang dipotong? Ataukah memang ada persoalan etis dalam proses dokumentasi yang perlu dijelaskan lebih terbuka?

Selanjutnya 1 2 3 4
Penulis: Dandy Sihotang
Editor: Dedy Hu
Photographer: DOkumen Dailyklik

Baca Juga