Film Pesta Babi, Mama Yasinta, dan Cara Kita Bermedia Sosial di Tengah Banjir Opini
Dalam konteks digital hari ini, jempol adalah setir, emosi adalah kecepatan, dan akal sehat adalah rem.
Jika semuanya dikendalikan oleh kemarahan, maka yang lahir bukan lagi ruang pencarian kebenaran, melainkan ruang penghakiman yang dipenuhi prasangka. Ironisnya, dalam situasi seperti itu masyarakat adat Papua justru kembali menjadi objek perebutan narasi. Mereka dipakai sebagai simbol politik, bahan propaganda, atau sekadar komoditas perhatian publik di media sosial.
Padahal selama ini Papua terlalu sering dibicarakan tanpa benar-benar didengar. Banyak orang berbicara tentang Papua dari kejauhan, tetapi sedikit yang sungguh memahami luka sosial, perubahan ruang hidup, dan kegelisahan masyarakat adat yang hidup langsung di tengah perubahan tersebut.
Karena itu, polemik Pesta Babi dan pernyataan Mama Yasinta seharusnya menjadi pengingat bahwa demokrasi membutuhkan ruang dialog, bukan saling membungkam. Pembuat film memiliki kebebasan berkarya, tetapi kebebasan itu harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab etis terhadap masyarakat yang mereka dokumentasikan. Di sisi lain, publik juga berhak mengkritik, tetapi kritik harus dibangun di atas verifikasi dan pemahaman yang utuh.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya tentang sebuah film dokumenter. Ini tentang bagaimana kita memperlakukan suara masyarakat adat, bagaimana media membentuk realitas, dan bagaimana masyarakat belajar menjadi lebih dewasa dalam menggunakan media sosial.
Sebab di era digital hari ini, informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia memahami konteksnya. Dan ketika emosi bekerja lebih cepat daripada akal sehat, maka yang lahir bukan lagi ruang pencarian kebenaran, melainkan ruang prasangka yang terus dipelihara.
Penulis adalah jurnalis Dailyklik, bermukim di Medan.








Komentar