Film Pesta Babi, Mama Yasinta, dan Cara Kita Bermedia Sosial di Tengah Banjir Opini
Di sinilah masyarakat perlu belajar lebih dewasa dalam bermedia sosial. Tidak semua persoalan bisa dipahami hanya dari potongan video, kutipan singkat, atau narasi viral yang beredar cepat di internet.
Dalam ilmu komunikasi dan psikologi sosial, kondisi ini dikenal sebagai confirmation bias atau bias konfirmasi. Manusia cenderung mempercayai informasi yang sesuai dengan keyakinan atau emosi yang sudah dimiliki sebelumnya. Orang tidak lagi mencari kebenaran, melainkan mencari pembenaran.
Akibatnya, ketika muncul isu seperti polemik Pesta Babi, publik langsung membentuk kubu. Mereka yang sejak awal mendukung film akan cenderung mengabaikan kritik terhadap pembuat dokumenter. Sebaliknya, mereka yang sejak awal menolak film akan lebih mudah mempercayai semua tuduhan terhadap film tersebut tanpa proses verifikasi yang utuh.
Padahal persoalan ini jauh lebih kompleks. Film Pesta Babi sebelumnya dikenal sebagai dokumenter yang mengangkat kehidupan masyarakat adat Papua, hubungan mereka dengan alam, serta perubahan sosial akibat pembangunan dan pembukaan lahan. Film itu dipandang banyak orang sebagai ruang untuk memperlihatkan realitas Papua yang selama ini jarang mendapat sorotan media nasional.
Namun ketika muncul keberatan dari Mama Yasinta, diskusi kemudian berkembang ke isu yang lebih penting, yakni tentang etika dokumenter, persetujuan narasumber, dan hak masyarakat adat atas representasi diri mereka sendiri.








Komentar