Sekilas Info

Film Pesta Babi, Mama Yasinta, dan Cara Kita Bermedia Sosial di Tengah Banjir Opini

Dalam dunia dokumenter, kamera tidak pernah benar-benar netral. Selalu ada sudut pandang, proses penyuntingan, dan pilihan cerita yang membentuk bagaimana publik melihat sebuah realitas. Karena itu, masyarakat adat juga memiliki hak untuk mengetahui dan menyetujui bagaimana wajah, suara, dan pengalaman hidup mereka digunakan dalam sebuah karya.

Jika ada keberatan dari narasumber, hal tersebut tidak boleh dianggap sepele. Namun sebaliknya, keberatan itu juga tidak otomatis menjadi alasan untuk membungkam seluruh ruang kritik sosial yang ingin disampaikan sebuah dokumenter.

Karena itu, publik seharusnya tidak terburu-buru memilih kubu. Yang dibutuhkan adalah ruang dialog yang sehat, bukan penghakiman massal yang lahir dari emosi media sosial.

Hari ini, media sosial sering berubah menjadi arena tabrakan opini. Banyak orang langsung “menginjak gas” ketika melihat isu sensitif. Informasi dibagikan tanpa verifikasi, serangan personal dilakukan secara terbuka, dan ruang diskusi berubah menjadi medan kemarahan kolektif.

Padahal bermedia sosial seharusnya seperti berkendara di jalan raya. Ada saatnya kita menginjak gas ketika melihat ketidakadilan yang perlu disuarakan. Namun ada juga saatnya kita wajib menginjak rem ketika fakta belum sepenuhnya jelas dan emosi mulai mengalahkan akal sehat.

Selanjutnya 1 2 3 4
Penulis: Dandy Sihotang
Editor: Dedy Hu
Photographer: DOkumen Dailyklik

Baca Juga