Sekilas Info

Kekuatan Publik dan Media dalam Kasus Pembunuhan Brigadir Yosua

Kadiv Propam Polri Nonaktif saat mendatangi Bareskrim Polri untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi terkait tewasnya Brigadir Yosua di Rumah Dinas Kadiv Propam Polri beberapa waktu lalu. Foto. Ist

Dari saluran satu ke saluran lain kurang lebih kontennya sama. Hal ini tentu saja akan memperkuat efek pada khalayak.

Dengan sifat media yang ubiquity, cumulativeness, dan consonance tersebut, maka media mampu mem-blow up sebuah isu, sehingga dapat membangun opini mayoritas atau membebaskan yang terbungkam untuk berani bersuara.

Demikian pula dalam kasus tewasnya Brigadir Josua. Opini publik dalam bentuk komentar-komentar yang disampaikan melalui media pada gilirannya akan memperkuat agenda media dalam memberitakan sebuah kasus.

Agenda publik pada gilirannya berpengaruh pada agenda media. Dalam konteks ini media sosial mengambil peran yang signifikan.

Dengan kata lain digitalisasi komunikasi berkaitan erat dengan fenomana spiral of silence.

Agenda publik di jagad maya
Konsumsi informasi melalui media sosial Twitter, Tiktok, Youtube, ataupun media sosial lainnya menjadi tren pascameningkatnya penggunaan internet di Indonesia.

Hingga awal 2022 ini, berdasarkan data dari Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII), lebih dari 80 persen total pengguna adalah mereka yang berada di rentang usia 19-34 tahun.

Menariknya, pengguna pada rentang usia ini mulai menyukai isu-isu politik, ekonomi, pendidikan, hingga sosial yang dibalut dengan menarik di masing-masing platform.

Akhirnya mereka turut bersuara ketika ada berita yang viral. Suara-suara inilah yang akhirnya menjadi perbicangan publik yang kemudian diperhatikan seksama oleh warganet.

Bahkan pembicaraan mereka yang viral berpotensi memengaruhi tindakan dari pihak-pihak yang berkepentingan.

Kasus kematian Brigadir J memunculkan banyak respons dari publik. Kasus ini menarik warganet di kalangan generasi Z karena “dekat” dengan dunia mereka.

Kasus ini adalah pembunuhan sadis dengan teka-teki, di mana generasi pengguna Z suka menonton film dengan genre tersebut.

Film bergenre ini terkesan lebih menantang dan membutuhkan perhatian serius. Layaknya menonton film, mereka penasaran dengan bagaimana cara Polri menyelesaikan teka-teki ini atau mengungkap kejahatan.

Selanjutnya 1 2 3 4 5
Penulis: Ninik Sri Rejeki/ Olivia Lewi Pramesti
Editor: Redaksi
Photographer: Ist

Baca Juga