Surat untuk Bobby Nasution, Wali Kota Medan
Nasrudin Affandi (sering juga disebut Nasruddin Hoja atau Nasreddin Hoca) melihat Sultan masih bisa diselamatkan.
Maka dia pun datang ke istana, dan seperti sudah ia duga, upayanya menemui Sultan memang tidak mudah. Dia harus melewati lapisan demi lapisan birokrasi yang membentangkan jaraknya dengan Sultan.
Baca juga: Mengutuk Pengusiran Jurnalis, AJI: Bobby Harus Buka Diri untuk Jurnalis
Mulai dari orang-orang yang sama sekali tidak penting tapi sok merasa paling penting, orang-orang yang tidak terlalu penting, orang-orang setengah penting sampai kepada orang-orang yang benar-benar penting.
Nasruddin geleng-geleng kepala. Bahkan dirinya yang seorang mullah saja harus susah payah begini rupa untuk bisa menemui Sultan. Bagaimana rakyat, orang-orang biasa yang tidak punya embel-embel apa-apa?
Pak Wali,
Jika Anda pernah mendengar atau membaca kisah ini, maka tentu Anda tahu bagaimana akhirnya. Agar dapat menemui Sultan, Nasruddin mengelabui semua orang di lapisan birokrasi yang ditemuinya. Dia bilang, dirinya datang untuk menagih perkataan Sultan yang pernah menjanjikan memberinya hadiah.
Pada semua orang di lapisan-lapisan tersebut, Nasrudin mengatakan jika Sultan menunaikan janjinya, maka ia berjanji pula memberi mereka bagian masing-masing 10 persen.








Komentar