Surat untuk Bobby Nasution, Wali Kota Medan
Sebaliknya, serba teratur. Kaku dan tidak lepas. Pendek kata, kelihatan sekali dibikin-bikin, persis adegan dalam sinetron kurang modal di televisi yang kerap jadi bahan olok-olok.
Lebih-lebih gedung kantor tempat Anda bekerja. Sekarang makin terasa eksklusif. Kantor Anda, balai kota, semestinya adalah rumah rakyat.
Tempat rakyat mengadukan segenap keluh kesah dan masalah. Anda pasti masih ingat, seorang Cina di Jakarta pernah melakukannya. Para jelata datang dari mana-mana.
Menggelontorkan curahan hati atas nasib mereka tanpa ragu dan malu. Ada yang menangis. Tidak sedikit yang histeris. Tentu, para penipu juga ada, dan dia dengan mudah mendeteksi mereka karena kedekatannya dengan rakyat memang sebenar-benarnya nyata dan hidup, tanpa sekat, tanpa jarak.
Kantor Anda? Ah, lapisan-lapisan birokrasi –dan protokoler– di sekitar Anda telah mengubahnya menjadi istana, tempat bertahta seorang raja --yang tinggi, mulia, dan tak tersentuh. Rakyat jauh di bawah sini, Anda di atas sana.
Dan ini yang paling celaka (memang sungguh-sungguh celaka), ternyata, bawahan-bawahan Anda juga mulai menunjukkan gelagat untuk menerapkan kecenderungan serupa.
Pak Wali, apakah Anda tidak menyadarinya?
(T Agus Khaidir)








Komentar