Sekilas Info

Surat untuk Bobby Nasution, Wali Kota Medan

Bobby Afif Nasution dan Kahiyang Ayu

Seperti sang sultan dalam cerita tadi, Anda juga ingin rakyat kota ini makmur, sejahtera, dan berbahagia. Anda tidak ingin ada rakyat yang menangis karena lapar atau menahan sakit lantaran tak mampu pergi berobat.

Anda berhasil memenangkan pemilihan, tetapi sayang seribu kali sayang, lapisan demi lapisan yang kemudian secara cepat terbentuk di sekitar Anda, mulai dari lapisan orang yang benar-benar penting, orang setengah penting, orang-orang yang tak terlalu penting sampai kepada orang-orang yang sama sekali tidak penting tapi sok merasa paling penting, yang makin ke sini makin menunjukkan sikap pongah dan arogan pula, telah membuat Anda berjarak dari rakyat.

Jarak ini, dari hari ke hari, terus bertambah lebar. Rakyat yang awalnya cinta berubah jadi tak suka. Yang sejak awal memang tidak suka lantaran satu dua sebab perkara, aih, makin terang-terangan menunjukkan kebenciannya.

Namun bukankah Anda sering berada di tengah-tengah rakyat? Bagaimana bisa berjarak? Pertanyaan seperti ini pasti mengemuka. Iya, betul. Anda memang sering pergi menemui rakyat.

Ini tidak dapat dimungkiri. Nyaris saban hari Anda blusukan, turba, atau apalah istilahnya. Anda meninjau korban-korban bencana. Anda datang ke permukiman-permukiman tepi sungai, rumah susun, atau ke kelompok-kelompok warga kurang beruntung.

Sama saja, sebab kesan yang tertangkap dari itu semua tidaklah lebih dari sekadar pameran sikap kemerakyatan yang terpaksa. Tidak ada interaksi yang nyata dan hidup.

Selanjutnya 1 2 3 4 5
Penulis: T Agus Khaidir
Editor: Redaksi
Photographer: Istimewa

Baca Juga