Tak Sekadar Kota Seribu Kapel, Semana Santa di Larantuka Simpan Ritual 500 Tahun yang Bikin Hati Takjub
Masuk ke Kamis Putih, suasana syahdu memuncak dalam pembaruan janji imam dan upacara Tikam Turo, yakni pemasangan lilin devosi. Di momen inilah dimulai prosesi Muda Tuan, saat Patung Maria Dolorosa (Tuan Ma) dirias dan disiapkan untuk diarak dalam prosesi Jumat Agung.
Jumat Agung menjadi puncak emosi Semana Santa. Ribuan umat dan peziarah mengiringi prosesi laut dari Kapela Tuan Meninu, membawa patung Yesus menyeberangi perairan Larantuka dengan bero (sampan), hingga tiba di Pantai Pohon Sirih. Sebuah pemandangan yang menyatukan iman, budaya, dan alam dalam satu harmoni.
Keesokan harinya, Sabtu Santo menandai akhir devosi. Lagu “Vergen Mai De Deo” terdengar menggema, menyambut prosesi pemulangan Patung Tuan Ma dan Tuan Ana ke kapela mereka masing-masing. Malam harinya, Gereja Katedral bergemuruh merayakan kebangkitan Kristus dalam Misa Paskah yang semarak.
Di hari terakhir, Minggu Alleluya, umat mengarak Patung Maria Alleluya dari Kapela Maria ke Gereja Katedral. Di sinilah sukacita Paskah memuncak. Setelah misa, patung dikembalikan ke kapel, ditutup dengan lagu dan doa serta berkat salib dari imam.
Namun, Semana Santa bukanlah sekadar atraksi atau agenda wisata religi. Peziarah muda asal Maumere, Mariani Gema Galgani (25), menegaskan bahwa kekhusyukan dan kesiapan iman adalah yang utama.








Komentar