Perang Tarif: Memukul atau dipukul? Ekonomi Berdikari, Di Mana Engkau Kini?
“… Sekali lagi segala tenaga dan segala modal yang terbukti progressif akan kita ajak dan akan kita ikutsertakan dalam pembangunan Indonesia. Dus tenaga dan modal bukan asli yang sudah menetap di Indonesia dan yang menyetujui dan sangup terlaksananya program Kabinet Kerja akan mendapat tempat dan kesempatan yang wajar dalam usaha-usaha kita untuk memperbesar produksi di lapangan perindustrian dan pertanian” (TUDJUH BAHAN POKOK INDOKTRINASI Djakarta: Pertjetakan Negara,i 1961, Hal. 99).
Pemerintah era Bung Karno saat itu melakukan overall planning terhadap perekonomian agar pembangunan terarah di berbagai bidang.
Untuk mencapai kemandirian ekonomi misalnya, di bidang produksi dalam mewujudkan self sufficiency dalam bidang pangan, sandang dan papan serta obat-obatan dilakukan intensifikasi pertanian dalam menaikkan produksi dalam negeri.
Mendahulukan pendirian industri-industri hulu serta memaksimalkan industri yang sudah ada untuk mengolah bahan-bahan mentah Indonesia menjadi bahan siap pakai.
Kemudian memperluas industri besar dan kecil penghasil bahan konsumsi sehari-hari, mempergiat pertambangan serta mendirikan perindustrian berat di dalam negeri.
Pengawasan alur distibusi oleh pemerintah, menjalankan koperasi di tingkat paling bawah. Saat itu pemerintah juga menerapkan anggaran belanja negara sebagai tools pembangunan,8 yaitu anggaran belanja rutin dan melakukan deficit financing dalam melakukan pembangunan produktif.








Komentar