Pejabat yang Singgah di Meja Kopi Kontraktor
Oleh : Wenceslaus Wege
Masyarakat Sikka hari ini bukan lagi penonton pasif. Mereka kian cerdas, kian kritis, dan sangat sensitif terhadap bau-bau kejanggalan.
Di hadapan mereka, seorang kepala dinas bukan hanya dituntut taat pada aturan, tetapi juga patuh secara moral. Sebab setiap langkah pejabat selalu meninggalkan bayangan panjang—dan bayangan itu tidak pernah bisa disembunyikan.
Masyarakat mungkin berdiri jauh, tetapi telinga mereka tajam, setajam pisau cukur di pangkas rambut kota Maumere yang tak pernah meleset membersihkan seutas pun bulu janggut.
Mereka sering berkata, “Perjalanan dinas itu urusan negara.” Namun mengapa jejak kaki seorang pejabat justru ditemukan di meja kopi di desa lain—rumah warga, dan yang duduk bersamanya bukan staf, bukan warga, tetapi seorang kontraktor?
Apakah angin yang mengantar? Ataukah ada rencana yang dititipkan pelan-pelan di antara uap kopi yang naik dari cangkir?
Kopi memang pahit, tetapi prasangka masyarakat selalu lebih pahit. Sebab dalam satu tegukan singkat, orang bisa membaca seribu kemungkinan: proyek yang belum tender, janji yang belum diumumkan, atau perhitungan yang mengalir halus seperti gula cair ke dalam minuman yang mestinya tetap tawar.
Pejabat boleh lelah. Namun, integritas tidak boleh ikut istirahat, dan komitmen tidak boleh ikut tidur siang.
Sebab jabatan itu lampu—dan setiap lampu selalu diawasi gelap. Sekali saja singgah di tempat yang salah, nama baik bisa terpeleset lebih cepat dari pada tinta yang mengering di surat dinas.
Ah, mungkin hanya kopi. Mungkin hanya singgah sebentar. Mungkin hanya basa-basi. Tetapi masyarakat Nian Tanah sudah terlalu sering mendengar kata “hanya” dijadikan tirai penutup untuk hal-hal yang jauh dari sederhana. Seorang ahli pantun pernah mengingatkan:
“Kalau perahu masih di tengah laut, jangan sandar di perahu orang lain.”
Sebab ombak sekecil apa pun bisa menggeser arah. Semoga pejabat di nian Sikka tanah Alok mengerti bahwa yang mereka genggam bukan sekadar surat tugas, tetapi kepercayaan—rapuh seperti cawan tanah liat. Dan cawan itu bisa retak hanya karena satu tegukan kopi di meja yang salah.
Kualitas pemerintahan bukan hanya diukur dari bangunan yang berdiri, tetapi dari kejujuran yang tetap tegak meski tak terlihat.
Karena itu, rajailah jabatanmu dengan integritas, moral, dan cinta untuk melayani.
Salam waras dari balik bukit tulang belulang.







Komentar