Sekilas Info

Berani Bersuara demi Kebenaran

Ela Yorince Weni

Oleh: Ela Yorince Weni, S.Th
(Guru SMP Negeri 3 Kalabahi)

Banyak orang mendambakan kebenaran tetapi tidak semua orang mau menyuarakan kebenaran. Bahkan ada banyak orang Kristen yang justru menyembunyikan kebenaran. Tidak mau menyampaikan kebenaran karena ketakutan terhadap banyak hal. Ketakutan kepada penguasa politik, penguasa agama, bahkan penguasa dalam rumah dan penguasa-penguasa lain.

Ketakutan terhadap penguasa dan kebiasaan duniawi menciptakan kencendrungan untuk tidak menyampaikan kebenaran sorgawi. Orang lebih dominan melakukan hal yang juga orang banyak lakukan.

Jika orang banyak lebih sering melakukan hal yang tidak menunjukkan kebenaran, maka sebagaian orang Kristen juga justru copy paste (meniru dengan sama persis) perbuatan jahat atau ketidakadilan yang dilakukan.

Baca juga: Kehidupan Manusia dan Arti Bersyukur

Kecenderungan yang demikian membuat kita takut dan bahkan berkompromi dengan kejahatan dan melemahkan kebenaran itu sendiri. Atau dengan kata lain, kita tidak melakukan salah satu hal yang menjadi tujuan pelayanan Yesus.

Dalam menjalankan pelayanan-Nya, Yesus sangat menekankan kebenaran. Kebenaran itu, berada di jantung pelayanan Yesus. Di saat manusia takut menyampaikan kebenaran, maka Yesus berdiri sebagai kebenaran itu sendiri. Bahkan, nyawa-Nya pun dikorbankan untuk menjalani kebenaran itu.

Keadaan Yerusalem saat itu (dalam Lukas 12), misalnya, membuat Yesus harus menyampaikan secara tegas mengenai kebenaran agar kehidupan orang Yerusalem bisa kembali dan berpusat pada kebenaran, yakni Allah itu sendiri. Dalam menghadapi penguasa yang menggerakkan masa (orang banyak) untuk menindas orang lain termasuk para nabi, Yesus menunjukkan sikapnya yakni: pertama, mempersiapkan diri secara fisik dan psikis untuk menyampaikan kebenaran.

Saat Yesus berjumpa dengan orang Farisi, Ia dikatakan untuk harus pergi karena Herodes hendak membunuh-Nya. Mereka seperti beranggapan bahwa mental dan psikologi Yesus sebagai manusia akan tergangu jika mendegar ancaman. Apalagi, ancaman pembunuhan terhadap diri-Nya sendiri.

Agaknya, mereka ingin menakut-nakuti Yesus saat itu. Padahal seharusnya selama mereka mengikuti/membuntuti kemana Yesus pergi, dan melayani maka mereka sudah tahu bahwa Yesus merupakan salah satu manusia dengan kemampuan serta persiapan fisik dan psikis yang hampir bisa dibilang dua kali lipat di atas manusia normal lainnya. Yesus selalu mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi ancaman yang menghalangi-Nya untuk menyampaikan kebenaran dalam pelayanan.

Yesus menyebut Herodes sebagai serigala, untuk menggambarkan kelicikan/ berbahaya, kerakusan, orang yang menimbulkan ketakutan. Ia sangat haus kekuasaan. Ia menjadi raja yang kejam bahkan anak kandungnya pun dibunuh demi kekuasaan.

Selanjutnya 1 2 3
Penulis: Ela Yorince Weni
Editor: Redaksi
Photographer: Dok. Pribadi

Baca Juga