Belajar dari Rumah (BDR)
Ada satu rahasia, mengapa aku bisa menerima semua ini dengan baik. Karena kuawali semuanya dengan doa. “Dahulukan Tuhan dalam segala hal,” itu kata mutiara yang dipajang di ruang tamu. Jadi aku percaya bahwa dengan Tuhan hal yang sulit akan menjadi mudah.
***
Jujur saja, di satu sisi aku tidak suka dengan tahun ini. Ayah tidak bersama-sama dengan kami karena pengabdiannya sebagai seorang guru di luar kota. Aku bangga dengan ayah. Ayah rela tak pulang rumah demi mencerdaskan para penerus bangsa. Karena selain para tenaga medis, guru juga berperan penting dalam penanganan covid-19. Sehingga ibadah minggu di rumah dilakukan tanpa hadirnya ayah. Tapi aku bahagia masih bisa video call sama ayah, meskipun waktunya nggak banyak.
“Yang semangat ya belajarnya, jangan ngeluh terus,” tukas ayah menyemangatiku.
Suatu sore, aku disuruh bunda untuk membeli minyak goreng. Dengan scopy merahku, aku bergegas ke toko depan gang. Aku melewati sebuah taman mini, disitu kulihat ada seorang anak kecil dengan mengenakan seragam SD sedang duduk di kursi besi.
“Semua sekolah ditutup, kok dia pake seragam sih?”, tanya dalam benakku.








Komentar