Sekilas Info

Gerakan Literasi

Indonesia Darurat Literasi, Eka Bersama Ngobrol Buku Hadir Tawarkan Solusi

Indonesia Darurat Literasi, Eka Bersama Ngobrol Buku Hadir Tawarkan Solusi

Medan - Menurut data yang diambil dari Organisasi Internasional PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO), minat baca atau tingkat literasi masyarakat Indonesia masuk dalam kategori sangat memprihatinkan, bahwa menyentuh angka 0.001%.

Jika diakumulasikan dalam angka artinya dari 1.000 masyarakat di Indonesia, hanya ada 1 orang yang masuk dalam kategori memiliki minat baca tinggi dan ketertarikan terhadap literasi. Ini merupakan masalah serius yang sudah menjadi perhatian pemerintah karena berpengaruh dengan kualitas Sumber Daya Manusia di negara kita.

Melihat bagaimana masalah tersebut menjadi hal yang krusial, pada akhirnya seorang pegiat literasi yang berasal dari Sumatera Utara Eka Dalanta Rehulina bersama dengan rekan-rekannya dari bidang yang sama, mencoba untuk membantu menaikkan angkat minat baca tersebut dengan membentuk sebuah Komunitas penggerak literasi di Sumatera Utara yaitu Komunitas Ngobrol Buku.

Baca juga: Literasi Membaca Harus Jadi Program Prioritas Daerah

Baca juga: Menulis: Mengasah Bakat atau Hasil Keseriusan?

Eka sendiri adalah seseorang yang sudah memiliki minat baca tinggi sejak masa kecilnya, berawal dari kebiasaan orangtua Eka yang selalu membawa dan membacakan Buku setiap hari, menumbuhkan rasa kecintaan Eka terhadap buku dan karya sastra tulisan lainnya.

Di masa kuliah juga, Eka memutuskan untuk menggali lebih jauh dunia sastra dan buku sehingga memilih berkuliah di jurusan Sastra Indonesia, Universitas Sumatera Utara. Hingga saat ini Eka tetap menjadi sosok yang memegang teguh hobi dan kecintaannya kepada sastra dan buku, sehingga menjadikan dia salah satu pegiat literasi di Sumatera Utara.

Komunitas Ngobrol Buku adalah salah satu solusi yang ditawarkan Eka untuk membantu peningkatan minat baca dan angka literasi di daerah Sumatera Utara, bahkan Indonesia.

Komunitas ini berdiri pada bulan Mei 2020, Eka mengatakan bahwa keinginan untuk membentuk sebuah komunitas sebenarnya sudah sejak lama ada dalam benaknya, dan akhirnya terealisasikan ketika masa pandemi dimana orang-orang dibatasi berkegiatan sehingga lebih banyak menghabiskan waktu di berselancar di media sosial.

Baca juga: Hanya 36,1% Anak Kelas 3 SD di Papua Memiliki Keterampilan Literasi

Baca juga: Mahasiswa USU Ciptakan Komik ‘Ayo Bela Teman Kita’ untuk Pencegahan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi

Sehingga Komunitas Ngobrol Buku juga menggunakan platform Instagram sebagai media berdiskusi agar dapat mencakup lebih banyak masyarakat terutama generasi muda yang akan menjadi penerus bangsa. Topik-topik bahasan yang mereka tawarkan juga dibuat semenyenangkan mungkin sehingga masyarakat Indonesia memiliki ketertarikan lebih jauh terhadap buku dan sastra.

“Ngobrol Buku itu merupakan sebuah komunitas yang pada tujuan awal didirikannya adalah untuk memperkenalkan kekayaan sastra Indonesia kepada khalayak luas, terutama kepada anak-anak muda yang minat sastra dan literasinya yang semakin menurun setiap harinya, karena itu kami mengambil platform Instagram sebagai wadah kami untuk berdiskusi, karena sosial media adalah sesuatu yang dekat dengan anak-anak muda,” ujar Eka dalam salah satu sesi wawancara.

Selanjutnya 1 2
Penulis: Devis Karmoy
Editor: Redaksi

Baca Juga