Bencana Berulang, Negara Jangan Sekadar Datang Setelah Korban Berjatuhan
Oleh: Yoel Roilen Bignover Siahaan
Bencana kembali datang. Aceh dan sejumlah wilayah Sumatera belum sepenuhnya pulih dari banjir dan longsor akhir 2025, Nusa Tenggara Timur kembali diguncang gempa, sementara kebakaran hutan dan lahan kembali membakar sejumlah wilayah Kalimantan.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia mampu menangani bencana.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah negara benar-benar belajar dari bencana?
Sebab jika setiap bencana selalu diikuti pola yang sama—korban berjatuhan, pejabat turun, bantuan disalurkan, anggaran dikucurkan, lalu beberapa waktu kemudian bencana serupa kembali terjadi—maka yang perlu dievaluasi bukan hanya alam, melainkan juga sistem penanggulangan bencana kita.
Bencana bukan sekadar peristiwa alam. Ia juga merupakan ujian terhadap kapasitas negara.
Banjir dan longsor yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah Sumatera pada akhir November 2025 telah meninggalkan kerusakan besar. Rumah warga rusak, infrastruktur hancur, aktivitas ekonomi terganggu, dan ribuan masyarakat harus menjalani kehidupan dalam situasi yang jauh dari normal.
Bahkan hingga 2026, proses rehabilitasi dan rekonstruksi masih berlangsung. Pemerintah memperkirakan kebutuhan pemulihan mencapai sekitar Rp100,2 triliun untuk periode 2026–2028.
Angka Rp100,2 triliun bukan angka kecil.








Komentar