Sekilas Info

Ayfa, Tujuh Telur, dan Batas Sebuah Klaim

Ayfa Azahra, murid SD sedang mengikuti pelajaran di kelasnya. Ia adalah salah satu penerima manfaat program Japfa For Kids 2024-2025.

Pagi itu, Sumi menyiapkan nasi dan telur ceplok.

Makanan dibawanya ke meja. Ayfa duduk di kursi, menghadap ibunya.

Sumi mengambil sendok.

Nasi disuapkan ke mulut Ayfa. Kemudian telur.

Ayfa memakannya.

Tidak ada bujukan panjang.

Dulu, ketika disuruh makan, Ayfa sering menjawab, “Nanti, Mak. Bentar lagi makan.”

Salah satu makanan yang paling tidak disukainya adalah telur.

Sekarang berbeda.

“Dulu kamu paling tidak suka makan apa?” tanya Ayfa.

“Telur.”

“Sekarang masih tidak suka?”

“Udah suka.”

Perubahan itu tampak sederhana. Tetapi di belakangnya ada sebuah program, enam anak, 286 penerima manfaat, dan angka status gizi yang berubah.

Ayfa Azahra (depan) berkerudung, bersama teman-teman sekelasnya menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum memulai pelajaran pagi.

Angka yang berubah

Pada 19 Agustus 2024, petugas Puskesmas Pantai Labu mengukur Ayfa.

Berat badannya 15,6 kilogram. Tingginya 111,5 sentimeter. Indeks massa tubuh menurut umur atau IMT/U-nya 12,5 dan masuk kategori gizi kurang.

Lima bulan kemudian, pada 5 Februari 2025, pengukuran kembali dilakukan.

Berat Ayfa 17,25 kilogram. Tingginya 112,7 sentimeter. IMT/U-nya 13,6.

Kategori gizinya: normal.

Dalam angka, perubahannya terlihat jelas:

15,6 kg → 17,25 kg

111,5 cm → 112,7 cm

IMT/U 12,5 → 13,6

Gizi kurang → normal.

Tetapi angka-angka itu belum menjawab satu pertanyaan:

Apa yang membuat perubahan itu terjadi?

Makanan yang dulu tidak disukai Ayfa dan kini mulai suka adalah telur.

Sebelum tujuh telur

Menurut Sumi, perubahan Ayfa terhadap telur bahkan sudah dimulai sebelum program JAPFA berjalan.

Ayfa dulu menolak telur.

Sampai suatu hari ia melihat adiknya, Attaraska, makan telur.

Ayfa meminta.

Sumi membuatkannya.

Ia mencoba.

Sejak itu, kata Sumi, Ayfa mulai mau makan telur.

Ketika program JAPFA for Kids kemudian berjalan di sekolahnya, Ayfa sudah mulai menerima telur sebagai makanan.

Ayfa bersekolah di SD Negeri 105336 Rantau Panjang, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Ia menjadi salah satu dari enam anak penerima manfaat program.

Sebelum menentukan penerima manfaat, siswa diperiksa untuk mengetahui status gizinya. Pengukuran dilakukan oleh tim Puskesmas Pantai Labu. JAPFA kemudian menentukan daftar penerima manfaat berdasarkan hasil pengukuran tersebut.

Keenam anak itu pada baseline tercatat dalam kategori gizi kurang.

Telur ayam

Tujuh telur setiap minggu

Setiap penerima manfaat memperoleh tujuh butir telur per minggu.

Telur dibawa pulang, dimasak orang tua, lalu dibawa sebagai bekal ke sekolah.

Di sekolah, telur dimakan. Guru memantau apakah anak membawa bekal dan mengikuti kebiasaan makan yang ditetapkan dalam program.

Bagi Ayfa, bekal itu punya kenangan sendiri.

Bontotnya berwarna pink.

Yang paling ia ingat justru lauk kesukaannya: ayam.

Tetapi telur juga menjadi bagian dari bekalnya.

Di rumah, rutinitas itu bertemu dengan kebiasaan makan keluarga.

Sumi menyiapkan nasi, sayur dan telur untuk anak-anak. Kadang telur masuk ke nasi goreng atau mi goreng.

Kalau program JAPFA tidak ada pun, Sumi mengatakan ia tetap akan memasak telur untuk Ayfa.

“Sekarang mau dia makan telor,” katanya.

Bagi Sumi, perubahan itu berarti.

“Terbantulah kami. Jadi dah ada tambahan proteinnya. Gak hanya tahu, tempe dan ikan teri lagi.”

Ayfa Azahra dan teman-temannya menikmati sarapan pagi MBG di sekolah. Menu hari itu nasi dengan lauk telur Katsu.

Ayfa di sekolah

Perubahan Ayfa tidak hanya terlihat di meja makan.

Sebelum mengikuti program, Ayfa mengingat dirinya cukup sering tidak masuk sekolah.

Ketika ditanya mengapa dulu sering absen, jawabannya singkat.

“Karena sakit.”

Kini, pengalaman Ayfa di sekolah juga dilihat berbeda oleh wali kelasnya, Zulfiana Ramadhani, wali kelas 3.

Menurut Zulfiana, Ayfa kini semakin aktif dan lebih percaya diri di kelas.

Perubahan itu juga terlihat dalam dua kali observasi di kelas. Ayfa tampak aktif mengikuti kegiatan belajar dan berinteraksi dengan lingkungan kelasnya.

Ketika ditanya bagian sekolah yang paling ia sukai, Ayfa menjawab:

“Belajar dan banyak teman.”

Tidak ada data yang cukup untuk menyatakan bahwa pemberian telur menyebabkan Ayfa menjadi lebih aktif, lebih percaya diri, atau lebih jarang absen. Perubahan tersebut merupakan bagian dari apa yang terjadi dalam kehidupan Ayfa selama periode yang sama.

Namun perubahan itu dapat diamati: oleh wali kelasnya, dan dalam dua kali pengamatan langsung di kelas.

Faiz Ibrahim Ahmad, murid kelas 4, sedang membaca buku di taman sekolah. Faiz merupakan satu dari enam anak penerima manfaat program Japfa di SDN 105336 Rantau Panjang Pantai Labu, Deli Serdang, Sumatera Utara. Ia bercita-cita menjadi tentara.

Enam anak, lalu empat

Pada tahap pertama, ada enam penerima manfaat: Ayfa Azahra, Faiz Ibrahim Ahmad, Indera Marghana, M. Al Hu Zaini, M. Hafidz Abrisam dan Rizky Anugrah Utama.

Pada tahap kedua, daftar itu menjadi empat: Ayfa, Faiz, M. Al Hu Zaini dan Hafidz.

Indera dan Rizky tidak lagi tercantum sebagai penerima manfaat tahap kedua. Menurut pihak sekolah, satu anak naik ke SMP dan satu lainnya pindah sekolah.

JAPFA menjelaskan bahwa anak yang sudah lulus atau pindah sekolah tidak lagi dilanjutkan dalam intervensi karena program berlangsung di lingkungan sekolah.

Namun keenam anak tersebut tetap diukur pada pengukuran akhir, menurut konfirmasi Kepala UPT Puskesmas Pantai Labu, Intan Sinaga.

Pengukuran baseline dan endline dilakukan oleh tim Puskesmas dengan petugas yang sama dan menggunakan indikator IMT/U.

Dokumen individual keenam anak masih dalam proses pencarian di Puskesmas.

Untuk Ayfa, hasilnya sudah dapat dikonfirmasi.

Faiz Ibrahim Ahmad, murid kelas 4 dijemput ibunya saat pulang sekolah. Faiz merupakan satu dari enam anak penerima manfaat program Japfa di SDN 105336 Rantau Panjang Pantai Labu, Deli Serdang, Sumatera Utara.

286 anak

Kisah Ayfa adalah bagian kecil dari program yang lebih luas.

JAPFA menyebut 3.403 siswa dari 18 sekolah diperiksa.

Dari jumlah itu, 286 anak yang pada baseline berada dalam kategori gizi kurang atau buruk menjadi penerima manfaat utama.

JAPFA mengatakan ke-286 anak tersebut kembali diukur pada akhir intervensi.

Hasilnya, 137 anak berpindah dari kategori gizi kurang/buruk menjadi kategori gizi normal.

Dengan demikian, ada 149 anak lainnya yang belum tercatat berpindah ke kategori normal.

Dalam dashboard JAPFA for Kids 2024, distribusi status gizi juga menunjukkan perubahan dari Agustus 2024 hingga Januari–Februari 2025. Kategori severely thin turun dari 17,8 persen menjadi 9,1 persen. Kategori thin turun dari 82,2 persen menjadi 43 persen. Sementara kategori normal meningkat menjadi 47,9 persen.

JAPFA menyebut program pemberian telur tersebut berkontribusi terhadap peningkatan status gizi anak.

Tetapi ada perbedaan penting antara mengatakan program berkontribusi dan mengatakan telur menyebabkan anak menjadi normal.

Data yang tersedia tidak cukup untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat tersebut.

Tampak depan gedung Puskesmas Pantai Labu. Tempat Oriza Aurora, Tenaga Pelaksana Gizi bertugas.

Angka tidak bisa bicara sendiri

Oriza Aurora, Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas Pantai Labu, mengatakan perubahan status gizi seorang anak tidak dapat dikaitkan langsung hanya dengan pemberian telur.

Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi status gizi.

Pola makan. Frekuensi makan. Variasi makanan. Porsi. Konsumsi susu, ikan dan daging. Pola asuh. Kondisi lingkungan dan sanitasi.

Dalam kasus Ayfa, telur juga bukan satu-satunya makanan yang dikonsumsi selama periode tersebut.

Karena itu, perubahan IMT/U dari 12,5 menjadi 13,6 menunjukkan bahwa status gizi Ayfa berubah antara dua waktu pengukuran.

Tetapi perubahan itu tidak membuktikan bahwa telur merupakan penyebab tunggalnya.

Tangkapan layar Dasbord Japfa For Kids 2024. Foto: Dokumen Japfa.

Ketika data harus dicari

JAPFA tidak memberikan angka individual Ayfa dengan alasan kebijakan perlindungan data anak.

JAPFA hanya mengonfirmasi bahwa pada pengukuran akhir Ayfa masuk kategori normal.

Angka individual tersebut kemudian dikonfirmasi kepada Puskesmas Pantai Labu, pihak yang melakukan pengukuran.

Hasilnya konsisten:

Baseline — 19 Agustus 2024
BB 15,6 kg
TB 111,5 cm
IMT/U 12,5 — gizi kurang

Endline — 5 Februari 2025
BB 17,25 kg
TB 112,7 cm
IMT/U 13,6 — normal

Dengan data itu, satu hal dapat dikatakan dengan pasti:

Ayfa mengalami perubahan status gizi dari gizi kurang menjadi normal menurut indikator IMT/U.

Yang tidak dapat dipastikan dari data tersebut adalah seberapa besar peran tujuh telur dalam perubahan itu.

Sumi (28 tahun), ibu dari Ayfa Azahra, sedang menggendong Attaraska, di warung mereka di Dusun III, Desa Kelambir, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Ayfa Azahra, salah satu anak penerima manfaat program Japfa.

Yang tersisa setelah program

Program telah selesai.

Tetapi telur tetap berada di meja makan rumah Sumi.

Pagi itu, nasi dan telur ceplok kembali tersedia.

Sumi duduk bersama Ayfa.

Sendok di tangannya bergerak lebih dulu ke nasi.

Kemudian telur.

Ayfa membuka mulut dan memakannya.

Tidak ada lagi adegan membujuk panjang.

Dulu, Ayfa mengatakan telur adalah makanan yang paling tidak disukainya.

Sekarang ia mengatakan sudah suka.

Status gizinya berubah dari kurang menjadi normal menurut IMT/U.

Seberapa besar peran tujuh telur dalam perubahan itu belum dapat dijawab oleh data yang ada.

Tetapi satu perubahan bisa dilihat langsung di meja makan rumah Sumi: Ayfa sekarang mau makan telur.

Baca Juga