Santi Sinaga, Penyedia Jasa Tik Manual yang Masih Eksis di Pintu Sumber USU
Bertahan di ujung harapan
Kini, permintaan kian menurun, hanya tersisa pelanggan yang membutuhkan jasa pengetikan surat-surat, seperti surat tanah dan surat segel. “Istilahnya kalau buka ketik-ketikan dulu ya gampang sih, karena memang dibutuhkan kali. Tapi sekarang udah gak ada” tuturnya.
Ada kepuasan tersendiri ketika ia bertemu dengan mahasiwa yang sudah tamat dan sudah bekerja. Tak jarang mereka memberi sedikit uang sebagai tanda terima kasih.
’Ih masih di sini Kakak ini, ya, Kakak ini loh yang bikin aku jadi sarjana’. Padahal saya cuma ngetik aja bantu skripsiannya sampai siap,” kenangnya.
Kisaran tarif yang Santi tetapkan biasanya dihitung per satu dokumen, bukan per lembar. Untuk dokumen seperti surat tanah dan segel dikenakan biaya Rp50 ribu. Ketika ditanya soal persaingan dengan komputer, Santi menggeleng. “Gak ada persaingan, karena mesin tik ini kan gak banyak. Ngapain bersaing-saing, orang semua butuh mesin komputer,” jelasnya.
Ia mengakui penghasilannya jelas jauh berbeda. Ia tidak bisa memastikan jumlah pastinya setiap bulan, karena bergantung pada banyaknya pelanggan yang datang. Namun, dalam kondisi tertentu ia bisa memperoleh penghasilan hingga sekitar Rp5 juta per bulan.








Komentar