Angka Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Flores Timur Terus Naik
Sementara itu, aktivis perempuan asal Papua, Putri Efara, melihat kekerasan ini sebagai gambaran sistem sosial yang timpang dan patriarkis. Menurutnya, perempuan dan anak dipandang sebagai aset keluarga yang harus tunduk pada stabilitas sosial dan ekonomi, sering kali dikorbankan atas nama adat, agama, dan kehormatan.
“Negara pun kadang tak hadir secara nyata. Di wilayah marginal seperti Flores Timur, perempuan dan anak jadi yang paling rentan,” ujarnya.
Putri menekankan perubahan harus dilakukan secara kolektif dan menyeluruh. Pendidikan kritis gender, reformasi hukum, pelibatan komunitas, dan narasi publik yang mendukung korban adalah kunci untuk menghentikan lingkar kekerasan.

“Kalau kita ingin mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, maka kita harus berani menggugat sistem,” tutupnya.








Komentar