Angka Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Flores Timur Terus Naik
Pemerhati perempuan dan anak, Mama Noben, menyebut budaya patriarki yang kental menjadi salah satu akar masalah. Ketakutan untuk melapor karena anggapan membuka “aib keluarga” membuat banyak kasus kekerasan tidak pernah sampai ke meja hukum. Ia juga menyoroti dampak alkohol, tekanan ekonomi, dan tradisi yang menormalisasi kekerasan sebagai pemicu lainnya.
“Kita butuh lebih banyak ruang edukasi dan keberanian untuk bicara,” tegasnya.

Dampak kekerasan ini tak hanya fisik, tapi juga mental. Rizky Pradita Manafe, dosen psikologi dari Undana Kupang, menjelaskan bahwa korban sering mengalami trauma berat, depresi, dan bahkan memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup. Dalam banyak kasus, stigma sosial membuat korban semakin tertutup dan enggan mencari pertolongan.

“Kita butuh layanan pemulihan yang holistik. UPTD Rumah Aman, misalnya, harus hadir untuk bantu hukum, kesehatan mental, dan pemberdayaan ekonomi,” katanya.








Komentar