Sekilas Info

Angka Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Flores Timur Terus Naik

FDN (14) korban penganiayaan pasutri di Pulau Adonara. Dailyklik.id/Arsenius Agung

Pemerhati perempuan dan anak, Mama Noben, menyebut budaya patriarki yang kental menjadi salah satu akar masalah. Ketakutan untuk melapor karena anggapan membuka “aib keluarga” membuat banyak kasus kekerasan tidak pernah sampai ke meja hukum. Ia juga menyoroti dampak alkohol, tekanan ekonomi, dan tradisi yang menormalisasi kekerasan sebagai pemicu lainnya.

“Kita butuh lebih banyak ruang edukasi dan keberanian untuk bicara,” tegasnya.

Mama Noben, Pemerhati Perempuan dan Anak usai diwawancara. Dailyklik.id, /Arsenius Agung

Dampak kekerasan ini tak hanya fisik, tapi juga mental. Rizky Pradita Manafe, dosen psikologi dari Undana Kupang, menjelaskan bahwa korban sering mengalami trauma berat, depresi, dan bahkan memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup. Dalam banyak kasus, stigma sosial membuat korban semakin tertutup dan enggan mencari pertolongan.

Rizky Pradita Manafe, M.Psi., Dosen Prodi Psikologi Undana Kupang dan Ketua HIMPSI NTT. Documen pribadi.

“Kita butuh layanan pemulihan yang holistik. UPTD Rumah Aman, misalnya, harus hadir untuk bantu hukum, kesehatan mental, dan pemberdayaan ekonomi,” katanya.

Selanjutnya 1 2 3
Penulis: Arsenius Agung
Editor: Dedy Hu
Photographer: Arsenius Agung

Baca Juga