Kisah Pilu di Balik Reruntuhan
Jejak Bencana Sukabumi – Mengabadikan Kisah, Menyusun Solusi
Namun, tak disangka, di perjalanan pulang, usai mengantarkan anaknya ke sekolah, ia justru tertimbun longsor. "Saya nggak pernah nyangka suami saya akan pergi selamanya. Dia sehat, tidak ada firasat apa pun. Saya baru tahu suami tertimbun longsor dari kabar orang kecamatan dan melihat berita di media sosial," ujar Lena dengan suara bergetar, sambil memegang foto almarhum suaminya, saat ditemui di rumahnya di Kampung Ciawitali, Desa Loji, Sukabumi, baru-baru ini.
Bagi ibu dua anak ini, Syahroni adalah sosok suami yang baik dan penuh kasih sayang. "Selama 20 tahun menikah, dia tak pernah membentak atau memukul saya. Dia juga aktif berkegiatan di masjid dan menjadi komite sekolah," kenangnya.
Kebaikan Syahroni juga dibenarkan oleh tetangganya, Ai Nani Suryani (44). "Pak Syahroni orangnya baik. Terakhir saya bertemu dengannya saat ia hendak mengantar anaknya. Yang aneh, waktu itu dia melambaikan tangan, sesuatu yang jarang ia lakukan," kata Ai Nani, yang rumahnya juga ikut lantak akibat longsor.
Tak jauh dari sana, berjarak sekitar satu kilometer, ada Kampung Cisarakan, yang juga terkena dampak bencana. Di Kampung Cisarakan, Kosasih (56) kehilangan dua rumah dan warung yang selama ini menjadi sumber penghidupannya.

Sementara itu, pasangan Abas (44) dan Ida harus merelakan kepergian anak bungsu mereka, Aden Daffa Airlangga (11), yang tak terselamatkan saat longsor menimbun rumah mereka. Kisah-kisah ini hanyalah sebagian kecil dari tragedi yang menimpa Sukabumi di penghujung tahun 2024.








Komentar