Refleksi 77 Tahun TNI: Sinergi dan Integrasi Nasional Sebuah Keniscayaan
Selain itu, solusi internal dengan adanya roadmap pengembangan pertahanan dan konsep strategi perang di era yang semakin cepat berkembang dan modern.
Berdasarkan kondisi geografis, menunjukan bahwasanya Indonesia sebagai negara kepulauan dibangun berdasarkan konsep kesatuan antara kepulauan dan perairan yang berhubungan.
Laut harus dijadikan sebagai perekat kesatuan bukan sebagai elemen pemisah. Sehingga menjadi manifestasi politik konsepsi nasional sebagai pertahanan negara kepulauan sejak era kebangkitan nasional tahun 1908.
Sehingga, Indonesia sudah harus memikirkan jauh ke depan pembangunan kekuatan matra Laut sebagai benteng pertahanan kedaulatan negara yang kokoh.
Selain itu, sejarah telah menjadikan pengalaman dan mengajarkan kepada kita, bahwa kemanunggalan dengan rakyat merupakan sebagai senjata ampuh yang dahsyat dalam implementasi Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta).
Mewujudkan Kemanunggalan TNI dengan rakyat tidak bisa dilakukan secara “instan” namun harus “konstan” dipersiapkan secara dini agar senantiasa terpelihara semangat belanegara, kesiapan Sumberdaya Manusia, Sumberdaya Alam dan buatan maupun komponen lainnya yang tercakup dalam bagian Sishanta.
Salah satu cara untuk mewujudkan Kemanunggalan TNI-Rakyat adalah dengan kegiatan Pembinaan Teritorial yang konsisten dan keberlanjutan, bukan hanya sekedar program dalam memenuhi kewajiban administrasi belaka, namun pembangunan kemanunggalan rakyat secara esensial yang dibutuhkan.
Pangkat dan jabatan bukanlah ukuran pengabdian prajurit TNI. Namun, ketulusan dan keikhlasan menjadi modal utama pengabdian kepada bangsa dan Negara.
Sehingga, sangat diperlukan sinergi pembangunan komponen pertahanan secara nasional. Sebab, selama ini prioritas masih pada pembangunan Komponen Utama.
Idealnya perlu pembangunan Komponen Cadangan sebagai penentu deterrent effect dan pembangunan Komponen Pendukung dalam mendorong kemajuan strategis sebagai sebuah bangsa yang tangguh.








Komentar