Sekilas Info

Refleksi 77 Tahun TNI: Sinergi dan Integrasi Nasional Sebuah Keniscayaan

Dr Rasminto

Sehingga tidak ada kata lain, selain TNI harus membangun soliditas dan solidaritas kemanunggalan TNI dengan rakyat, termasuk tidak ada lagi kita harapkan adanya friksi-friksi maupun konflik terjadi antara TNI dengan rakyat.

Sebab akan muncul pertanyaan pada rakyat, yakni apakah pembangunan pertahanan sia-sia? dan apakah kontribusinya untuk kemakmuran?.

Tentunya ini menjadi kerja keras kita bersama dalam membangun pemahaman yang komprehensif dan holistik dalam menjawab pertanyaan tersebut, sehingga tidak dibenturkan pada sebuah dilema ketika berbicara pertahanan versus kesejateraan.

Membangun militer yang kuat dimulai dengan misi untuk berperang dan memenangkan perang, namun misi tersebut tidak berakhir di situ.

Seperti yang digambarkan oleh Theodore Roosevelt Presiden Amerika Serikat ke 26 bahwa para pemimpin Amerika telah lama menghargai militer yang tangguh dapat menghasilkan keuntungan diplomatik dan ekonomi yang melimpah, bahkan ketika tidak digunakan di masa perang.

Kemampuan militer Amerika Serikat mendukung kebangkitan bangsa Amerika Serikat menuju kejayaan global.

Selain itu, tokoh militer legendaris Indonesia, Jenderal Oerip Soemohardjo selaku pimpinan TNI AD masa awal kemerdekaan pernah berkata "Aneh...negara zonder tentara," hal tersebut diucapkan saat pemerintah Indonesia belum kunjung memiliki militer meski kemerdekaannya terancam.

Akhirnya, Indonesia, seperti banyak negara lain di dunia, memiliki angkatan bersenjata yang tugas utamanya adalah menjaga kedaulatan negara.

Persoalan lainnya yakni adanya kontra sosial dengan timbulnya resistensi penolakan publik.

Sehingga diperlukan solusi nasional melalui hukum dan konstitusi dalam menjamin hak seluruh rakyat Indonesia dan menjamin kepastian hukum dan konstusi setiap warga negara.

Selanjutnya 1 2 3 4 5
Penulis: Rasminto
Editor: Redaksi

Baca Juga