Sekilas Info

Salah Kaprah Soal Ekowisata, Pahami 4 Faktanya

Ecotourism atau ekowisata sedang naik daun
Tangkahan sungai dan bebatuan

Beberapa tahun lalu, Alex sempat menikmati kawasan ekowisata Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Lokasinya benar-benar jauh dari perkotaan.

Di sana ia bisa menikmati sungai dan hutan, melihat orangutan, memandangi jamur-jamur yang menyala di malam hari. Ia menikmati makan malam di kapal, sambil ditemani begitu banyak kunang-kunang.

“Ketika malam, aku suka naik ke bagian atas boat. Dari atas tak ada polusi cahaya sama sekali. Bintang bertaburan di langit. Pemandangannya bagus banget," jelas Alex.

4. Eco-friendly traveling sama dengan ecotourism

Karena sama-sama ada kata ‘eco’, dan sama-sama mengandung unsur wisata, maka tak sedikit yang menyangka bahwa eco-friendly traveling sama dengan ecotourism.

Sebenarnya tidak sama. Eco-friendly traveling lebih pada rasa kepedulian atau tanggung jawab sebagai traveler terhadap lingkungan.

Namun, Diyah melihat ada benang merah di antara keduanya, yaitu sama-sama peduli terhadap alam. Hanya, caranya saja yang berbeda.

Ia mencontohkan perilaku eco-friendly traveling. Ketika kita pergi dengan pesawat, artinya ada jejak karbon yang cukup besar.

Maksudnya, ada karbondioksida dari pesawat yang dihasilkan dan berpotensi menyebabkan polusi.

Kalau kita paham soal eco-friendly traveling, kita punya tanggung jawab untuk ‘mengganti’ pelepasan karbon tersebut.

Salah satu caranya adalah mengadopsi pohon yang sudah cukup besar dan telah menghasilkan banyak oksigen.

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6
Penulis: Devis Karmoy
Editor: Redaksi
Photographer: Prama Danawira

Baca Juga