Kehidupan Manusia dan Arti Bersyukur
Kedua, jangan mengeluh; jangan memilih untuk bertambah susah karena memikirkan kepahitan, kesedihan, kedukaan. Sebaliknya, buanglah kata-kata negatif yang tidak membangun dan hanya melemahkan dari mulut kita. Kata-kata yang kita ucapkan dapat sangat kuat pengaruhnya terhadap diri kita.
Kata-kata positif akan membuat hati kita terang dan senang, sedangkan kata-kata negatif akan membuat hati kita muram dan sendu. Suasana hati yang terang atau hati yang suram akan berdampak dalam perilaku hidup kita. Habakuk dan Yeremia, di tengah segala kesusahan dan penderitaannya, tetap dapat memuji Tuhan. Sama seperti Habakuk, “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan. Namun, aku akan bersoraksorai di dalam TUHAN”. Dengan kata lain, sekali pun ia mengalami kesusahan dan kekecewaan, tetapi ia tidak mengeluh. Ia tetap bergembira.
Ketiga, lakukan hal-hal yang baik dan berguna untuk orang lain; keempat, buatlah catatan harian yang isinya adalah hal-hal yang kita syukuri setiap hari. Niscaya, kita akan semakin melihat betapa ajaibnya Tuhan kita, yang terus memberikan rahmat baru setiap pagi! Keempat, belajar dari kelebihan orang lain; kelima, memegang janji Tuhan; dan berdoa dengan tekun dan sabar.
Ada beberapa tokoh dalam alkitab yang dapat diteladani bagaimana mereka bersyukur dalam situasi sulit. Pertama, Raja Daud. Raja Daud selalu menaikan nyanyian syukur ketika Tuhan melepaskan dari cengkraman musuh juga dari tangan Saul (Mazmur 18:1-50).
Kedua, dalam Perjanjian Baru, kehidupan Rasul Paulus dilandasi dengan rasa syukur kepada Allah Bapa, melalui Kisah Para Rasul maupun surat-surat Paulus. Kita dapat mengenal Paulus, semula ia adalah tokoh agama Yahudi yang menganiaya orang Kristen (Galatia 1:13, Kisah Para Rasul 22 : 4-5).
Titik balik Paulus terjadi saat berjumpa dengan Yesus (Kisa Para Rasul 9:1-19) sempat buta tiga kali, dari nama Saulus menjadi Paulus, sejak itulah ia bertobat dan hidupnya penuh ucapan syukur.
Ketiga, Nabi Habakuk (Habakuk 3:17-19). Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang namum aku akan bersorak-sorai dalam Tuhan.
Artinya, dalam kondisi kekurangan, sekalipun ia tetap bersyukur. Keampat, Nabi Yeremia (Ratapan 3:21-23). Pengharapan yeremia dalam penderitaan kepada Tuhan.
Ada beberapa manfaat bersyukur ketika kita menjalani kehidupan ini. Antara lain: pertama, mengucap syukur menyadarkan kita bahwa tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini.
Semua adalah keinginan biasa kita memandang pengalaman hidup sebagai suatu kebetulan namun, Alkitab menjelaskan bahwa itu anugerah Allah.
Kedua, mengucap syukur membuat kita rela menderita setiap keadaan untuk membentuk dan mendewasakan kita. Bersyukur adalah sikap hati seorang hamba kepada tuannya, seperti Maria bersyukur atas keadaannya (Lukas 1:38). Itulah yang membuat Maria sanggup memuji Tuhan.
Ketiga, mengucap syukur akan menghasilkan pengampunan dan akan membuat kita memandang orang yang menyiksa dan melukai atau menghianati kita dengan belas kasian dan Kristus. Dengan bersyukur Roh Kudus akan mengubah jiwa kita menjadi lembut dan mengampuni.
Keempat, mengucap syukur adalah kesempatan kita untuk membuang semua energi emosi negatif dalam jiwa kita. Lalu mengijinkan Tuhan mengantikannnya dengan energi emosi positif perasaan seperti marah, kecewa, dendam, kepahitan, dan lain-lain. Semua emosi negatif yang harus dibuang karena Allah sanggup merubah semua yang rusak mejadi baik. Semoga!








Komentar