Sekilas Info

Antara Pesta Demokrasi dan Jalan Menuju Lorong Kegelapan

Dani Sintara SH MH

Ketika suara rakyat sudah dapat dibeli dengan uang, kehormatannya digadai untuk kepentingan syahwat politik kekuasaan, saling beradu argumentasi dengan saling mencaci maki, merendahkan, saling penipu, dan idealismenya runtuh oleh iming-iming mendapatkan pekerjaan, singgasana, dan uang yang melimpah.

Dewasa ini sudah banyak kita mendengarkan kalimat yang terucap di bibir rakyat “kalau tidak ada uangnya, kami tidak pilih”, “ada uang, ada suara, tidak ada uang, jangan berharap” kondisi ini merupakan realita yang terjadi di daerah, hingga kerongkongan rakyat mudah diisi oleh selembar atau dua lembar uang merah, dan yang terpilih adalah pemimpin berhati kekuasaan, proyek, uang, manipulasi, kebohongan, dan kejahatan lainnya.

Kekecewaan demi kekecewaan yang dialami oleh rakyat menjadikan mereka trauma memilih orang-orang yang tidak berduit, sehingga mereka berdalil bahwa “sekarang adalah kesempatan untuk mendapatkan uang, nanti kalau mereka duduk tidak akan melihat dan mendatangi kita, daripada tidak dapat apa-apa lebih baik ambil uangnya, karena 5 tahun sekali kita dapat rezeki nomplok." Atau rakyat memberikan suaranya ketika ada keluarganya, satu partai, satu organisasi, satu etnis hingga mereka terikat oleh hukum primordial, cara berpikir seperti ini merupakan pikiran sungsang (terbalik), picik, dangkal dan bodoh.

Inilah yang menjadikan permasalahan kebenaran Suara Rakyat yang hatinya sudah tertutup oleh uang, pikiran dangkal, mudah dibodohi oleh calon kepala daerah, mudah diiming-iming oleh proyek dan jabatan.

Oleh karena itu, maka Vox Populi Vox Dei hanya menjadi pepesan kosong, bagaikan tong yang tidak berisi, saat dipukul nyaring bunyinya. Slogan yang jauh dari kualitas pesan yang mulia, lebih banyak disuarakan oleh orang-orang mayoritas yang menginginkan agar pemimpin daerah dipilih dan ditentukan oleh mereka yang rendah akhlak dan moralnya.

Ajaran suara rakyat adalah suara Tuhan, berubah menjadi kurikulum yang ditancapkan dalam-dalam dibenak (otak) anak bangsa, karena mereka menganggap apa yang dikatakan oleh rakyat adalah benar, sehingga lahirlah suara mayoritas yang mengalahkan suara minoritas. Suara yang diakui kebenarannya apabila banyak rakyat yang menginginkannya, sedangkan suara minoritas tidaklah berguna apa-apa, hanya menjadi pemanis dan jauh dari kebenaran.

Selanjutnya 1 2 3
Penulis: Dani Sintara
Editor: Redaksi
Photographer: Istimewa

Baca Juga