Catatan Akhir Tahun 2025 tentang Etika Kekuasaan
Demokrasi Indonesia di Persimpangan Jalan
Demokrasi Indonesia Di Persimpangan Jalan
(Catatan Akhir Tahun 2025 tentang Etika Kekuasaan)
Oleh : Dr Goris Lewoleba MSi*
Tanpa terasa gerak langkah dan dinamika perjalanan hidup bangsa Indonesia sudah sampai di penghujung akhir tahun 2025.
Sebagaimana biasa, akhir tahun selalu menjadi ruang sunyi untuk bertanya dengan jujur: ke mana arah demokrasi Indonesia berjalan? Di tengah hiruk-pikuk stabilitas politik yang kerap diklaim sebagai keberhasilan, justru muncul kegelisahan yang tak bisa diabaikan begitu saja bagai api di dalam sekam.
Demokrasi memang tampak hidup secara prosedural, tetapi terasa rapuh secara etika. Dikatakan demikian karena, memang kekuasaan berjalan di depan mata, namun nilai-nilai yang seharusnya menuntunnya tampak semakin kabur.
Demokrasi tidak hanya soal pemilu, suara terbanyak, atau legitimasi formal. Tetapi, demokrasi adalah soal keadaban dalam menggunakan kekuasaan. Di titik inilah refleksi akhir tahun 2025 ini menjadi penting, agar demokrasi tidak sekadar bertahan, tetapi tetap hidup dan bermartabat.
Demokrasi Prosedural dan Kekosongan Makna
Dalam pengamatan dan perkiraan yang mendekati kebenaran, bahwa sepanjang tahun ini, demokrasi Indonesia memperlihatkan wajah yang paradoksal. Hal ini disebabkan karena, di satu sisi, mekanisme demokrasi tetap berjalan, tetapi pada sisi yang lain, publik merasakan jarak yang semakin lebar antara prosedur dan substansi, seperti jauh panggang dari api.
Pasalnya, aturan memang sudah ditaati, tetapi rasa keadilan kerap tertinggal entah kemana. Oleh karena itu, perlu dipahami bahwa,
demokrasi yang hanya bertumpu pada prosedur, berisiko akan kehilangan makna.
Ketika legitimasi hukum digunakan untuk membenarkan praktik yang secara etik dipertanyakan di depan mata publik, maka demokrasi berubah menjadi formalitas tanpa jiwa.
Inilah titik persimpangan yang menentukan: apakah demokrasi akan tumbuh dewasa, atau justru berjalan mundur dengan wajah yang lebih rapi, tetapi tampak seperti kuburan yang dilabur putih.
Etika Kekuasaan yang Kian Menipis








Komentar