Sekilas Info

Catatan Akhir Tahun 2025 tentang Etika Kekuasaan

Demokrasi Indonesia di Persimpangan Jalan

Ilustrasi

Lalu, kritik dianggap sebagai ancaman, perbedaan dilihat sebagai permusuhan. Ketika nalar publik kalah oleh emosi kolektif, demokrasi kehilangan salah satu fondasi terpentingnya yaitu : rasionalitas warga.

Hukum, Kekuasaan, dan Rasa Keadilan

Aspek lain yang tak kalah penting adalah rasa keadilan dalam penegakan hukum. Ketika hukum dipersepsikan tajam ke bawah dan tumpul ke atas, demokrasi kehilangan legitimasi moralnya. Masalahnya bukan hanya pada hukum itu sendiri, tetapi pada etika kekuasaan yang mengiringinya.

Ketidakadilan yang terus berulang melahirkan sinisme publik. Demokrasi yang tidak dipercaya rakyatnya adalah demokrasi yang rapuh, meskipun secara formal masih berdiri kokoh.

Peran Warga Negara: Menjaga Akal Sehat Publik

Namun, demokrasi tidak hanya ditentukan oleh elite. Warga negara memegang peran penting sebagai penjaga akal sehat publik. Sikap kritis, keberanian melawan disinformasi, dan partisipasi yang sadar adalah bentuk etika kewargaan yang esensial.

Masyarakat sipil, media, akademisi, dan komunitas digital memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga ruang publik tetap sehat. Demokrasi membutuhkan warga yang tidak mudah terprovokasi, tidak terjebak fanatisme, dan tidak menyerahkan sepenuhnya urusan publik kepada segelintir elite.

Menutup Tahun, Menata Harapan ke Masa Depan

Selanjutnya 1 2 3 4
Penulis: Goris Lewoleba
Editor: Devis Karmoy
Photographer: dailyklik.id

Baca Juga