Sekilas Info

Empat Dekade Menjaga Gorga di Tanah Batak

Penulis saat berbincang dengan Bapak Silalahi, pengukir Gorga Batak di Samosir.

Ketika jumlah pengukir semakin sedikit dan generasi muda semakin jarang memilih pekerjaan tersebut, yang terancam hilang bukan hanya sebuah profesi. Yang ikut terancam adalah pengetahuan tentang simbol, teknik, bahan, bentuk, dan cerita yang melekat pada Gorga.

Karena itu, pelestarian Gorga tidak cukup dilakukan dengan menempatkannya sebagai pajangan atau simbol budaya. Gorga harus tetap dibuat, dipelajari, digunakan, diceritakan, dan dihargai.

Generasi muda perlu melihat bahwa seni tradisional bukan pekerjaan masa lalu yang tidak memiliki masa depan. Dengan pendekatan yang tepat, keterampilan mengukir dapat dipadukan dengan desain, teknologi digital, pariwisata, dan ekonomi kreatif tanpa kehilangan akar budayanya.

Empat puluh tahun yang dilalui Bapak Silalahi menjadi pengingat bahwa sebuah warisan budaya dapat bertahan karena ada orang yang bersedia merawatnya dengan ketekunan.

Namun, tidak selamanya satu generasi dapat memegang pahat.

Pada akhirnya, Gorga akan terus hidup bukan karena kayu dapat bertahan puluhan tahun, melainkan karena ada manusia yang bersedia meneruskan cerita di balik pahatan itu.

Dari tangan pengukir, Gorga diwariskan. Dari generasi berikutnya, ia seharusnya diteruskan.

Penulis adalah Pretty Luci Lumbanraja, salah satu peserta Relawan Bakti BUMN 2026 untuk Samosir.

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7 8
Penulis: Pretty Luci Lumbanraja
Editor: Dedy Hu
Photographer: Pretty Luci Lumbanraja

Baca Juga