Sekilas Info

Mangrove Adalah Kehidupan

Menanam bakau di sepanjang bibir pantai

Salah satunya datang melalui kolaborasi dengan PT INALUM. Kerja sama itu bermula dari proposal sederhana tentang pembinaan masyarakat pesisir. Dari sana, berbagai inisiatif tumbuh: pengayaan jenis mangrove, budidaya ikan, menara pengamatan burung, batik mangrove, pengelolaan sampah, hingga Sekolah Alam bagi anak-anak pesisir.

Plank yang menandakan luas areal hutan bakau yang dikelola Azizi. Izinnya dberikan pemerintah pada 2018, dan masa berlaku izin ini hingga 35 tahun

Melalui program Pohon Asuh, ribuan orang diajak terlibat menanam dan memelihara mangrove selama tiga tahun. Setiap propagul tidak hanya ditanam, tetapi juga dirawat hingga mampu bertahan hidup.

"Melalui berbagai program konservasi yang berkelanjutan, kami ingin menciptakan nilai yang tidak hanya berdampak bagi bisnis, tetapi juga bagi masyarakat dan lingkungan," kata Daniel Hutahuruk, Kepala Grup Layanan Strategis PT INALUM.

Bagi Azizi, dukungan semacam itu jauh lebih penting daripada sekadar seremoni penanaman. Sebab, sebagaimana keyakinannya selama ini, menanam adalah awal dari perjalanan panjang bernama perawatan.

Dari hutan mangrove, Azizi bukan hanya menemukan panggilan hidupnya. Ia membesarkan keluarganya. "Saya bisa mengkuliahkan anak-anak saya karena mangrove," ujarnya.

Ia tak pernah membayangkan bisa naik pesawat, berkeliling ke berbagai daerah, menjadi narasumber, atau dikenal luas sebagai aktivis lingkungan.

Semua itu datang dari hobi masa kecilnya menanam pohon. Anak-anaknya pun tumbuh bersama lumpur dan propagul.

Abiel Mihzam, putranya yang kini berusia 25 tahun dan merupakan lulusan Fakultas Hukum UMSU, memimpin Kelompok Garda Pemuda Mangrove Batu Bara. Ia juga mengelola Sekolah Alam yang mengajarkan anak-anak dan pemuda memahami ekosistem mangrove langsung di lapangan.

"Ayah itu konsisten berjuang untuk mangrove. Itu yang paling saya banggakan," kata Abiel.

Anak-anak SD belajar tentang mangrove di sekolah alam yang dikelola Azizi

Kepada anak-anaknya, Azizi selalu menitipkan pesan yang sama. "Kalau nanti Ayah sudah tiada, tolong hutan ini dijaga."

Sejak 2018, negara mempercayakan Azizi mengelola 456 hektare kawasan hutan kemasyarakatan selama 35 tahun. Baginya, itu bukan soal kepemilikan. Itu adalah amanah.

Berbagai penelitian menunjukkan kemampuan serapan karbon mangrove dapat mencapai tiga hingga lima kali lebih besar dibanding hutan daratan. Pada sejumlah kawasan pesisir Indonesia, cadangan karbonnya bahkan melampaui 600 ton per hektare. Karena itu, bagi Azizi, menjaga 456 hektare mangrove bukan sekadar menjaga pohon, melainkan menjaga masa depan.

Namun, manfaat mangrove baginya tak berhenti pada angka-angka ilmiah. Hutan itulah yang melindungi rumah-rumah warga dari abrasi, menjadi tempat berkembang biak kepiting dan udang, sekaligus menghidupi keluarganya selama puluhan tahun.

Ketika ditanya seperti apa mangrove jika ia manusia, Azizi terdiam cukup lama. "Seperti ibu," jawabnya pelan. "Kita harus menjaganya, karena dialah yang merawat kita."

Di bawah rindang bakau yang dulu menjadi taman bermain masa kecilnya, lelaki itu akhirnya menemukan satu kesimpulan sederhana tentang seluruh hidupnya:

"Mangrove adalah kehidupan."

Selanjutnya 1 2 3 4
Penulis: Dedy Hu
Editor: Redaksi DailyKlik

Baca Juga