Sekilas Info

Mangrove Adalah Kehidupan

Menanam bakau di sepanjang bibir pantai

Selama puluhan tahun, ia melihat ribuan bibit mangrove ditanam melalui berbagai program. Orang datang membawa spanduk, menanam propagul, berfoto bersama, lalu pulang. Tiga bulan kemudian, sebagian besar bibit itu mati.

Padahal, menurut Azizi, mangrove yang baru ditanam membutuhkan perhatian berulang. Sedikitnya empat hingga lima kali perawatan harus dilakukan hingga akar tunjangnya tumbuh kuat dan mampu menghadapi pasang surut laut. "Kalau tiga bulan pertama tidak dirawat, bisa mati semuanya," katanya.

Mangrove muda mulai tumbuh menghiasi bibir pantai.

Pengalaman merehabilitasi 30 hektare pesisir Gambus Laut mengajarkan satu hal penting: keberhasilan tidak diukur dari berapa banyak bibit yang ditanam, melainkan berapa banyak yang mampu bertahan hidup.

Dari sekitar 60 ribu propagul yang ditanam bersama belasan warga pada 2003, tidak semuanya berhasil tumbuh. Tingkat keberhasilannya berkisar 80 hingga 90 persen. Namun, dua belas tahun kemudian, kawasan itu berubah menjadi hutan mangrove yang rimbun. Pohon-pohon itulah yang kini menjadi sumber kehidupan baru.

Setiap musim berbuah, Azizi dan anak-anaknya kembali ke lokasi penanaman pertama. Mereka memungut propagul yang jatuh dari pohon-pohon dewasa, mengumpulkannya dalam karung, lalu menyemainya kembali untuk rehabilitasi pesisir di tempat lain. "Kalau bukan kita yang merawatnya, siapa lagi?" ujarnya.

Baginya, menanam hanyalah permulaan. Kesetiaan untuk tetap datang, tetap membersihkan, tetap menjaga ketika tidak ada sorotan dan tidak ada program, itulah pekerjaan yang sesungguhnya.

Azizi tidak memusuhi orang-orang yang pernah merusak mangrove. Sebaliknya, ia mengajak mereka kembali menanam.

Mantan pemilik dapur arang, orang-orang yang dahulu menebang batang bakau untuk bahan bakar, justru dilibatkan dalam rehabilitasi pesisir. "Saya ajak mereka supaya mereka tahu, menanam dan merawat mangrove itu tidak mudah," katanya.

Ia percaya kesadaran tidak lahir dari ceramah, melainkan dari pengalaman. Ketika tangan yang dahulu memegang kapak kini menancapkan propagul ke lumpur, ada sesuatu yang berubah: rasa memiliki terhadap alam yang selama ini dianggap tak bernilai.

Perjuangan panjang itu akhirnya menemukan banyak tangan yang bersedia berjalan bersamanya.

Selanjutnya 1 2 3 4
Penulis: Dedy Hu
Editor: Redaksi DailyKlik

Baca Juga