Mangrove Adalah Kehidupan
Puluhan dapur arang bermunculan. Batang-batang bakau ditebang untuk bahan bakar. Kayu mangrove dijual sebagai perancah bangunan. Memasuki akhir 1990-an, demam tambak udang membuat masyarakat berbondong-bondong mengubah pesisir menjadi kolam-kolam budidaya.
Hutan yang dahulu menjadi tempat Azizi mencari uang jajan perlahan menghilang. Di tengah arus itu, Azizi memilih jalan yang berbeda. Ia menanam kembali pohon-pohon bakau yang ditebang orang lain. Pilihan itu membuatnya dianggap aneh.
"Orang-orang di sini melihat saya seperti orang gila. Kurang kerjaan, menanam mangrove tapi tidak menghasilkan apa-apa," kenangnya.
Namun Azizi tidak berhenti. Pengalaman bekerja merehabilitasi hutan saat masih bekerja di PT Indorayon memberinya keyakinan bahwa hutan yang rusak bisa dipulihkan.
"Saya sudah belajar merawat hutan gunung. Pengalaman merawat mangrove memang tidak ada. Tapi saya yakin, hanya perlu belajar, saya pasti bisa," katanya.

Pada 2002, ia mengirim proposal rehabilitasi pesisir kepada Dinas Kehutanan Pemkab Batu Bara. Proposal itu gayung bersambut. Setahun kemudian, ia dipercaya merehabilitasi 30 hektare pesisir Gambus Laut dengan sekitar 60 ribu propagul mangrove.
Bersama belasan warga, ia mencari bibit hingga ke Air Joman, Asahan. Selama lebih dari sebulan mereka bekerja mengikuti pasang surut laut. Itulah awal perjalanan panjang yang mengubah hidupnya. Tetapi perjuangan itu tidak selalu mudah.
Supriana pernah meminta suaminya berhenti. Perjuangan mempertahankan pesisir agar tidak berubah menjadi kebun sawit membuat Azizi berhadapan dengan banyak pihak. Ada ancaman. Ada teror yang sampai ke rumah. Bahkan ia pernah dipanggil aparat. Bagi Azizi, itu bagian dari perjuangan.
Namun bagi Supriana, semuanya terasa menakutkan. "Sudahlah, berhenti saja," begitu permintaannya ketika tekanan datang bertubi-tubi.
Tetapi Azizi tetap bertahan. Ia percaya, jika mangrove hilang, abrasi akan mengambil rumah-rumah warga satu per satu.
Kini, perempuan yang dahulu meminta suaminya berhenti justru menjadi orang pertama yang ikut turun ke lumpur ketika keluarga mereka menanam propagul baru.
"Menanam itu gampang. Yang susah itu merawat."
Kalimat itu diucapkan Azizi berkali-kali.








Komentar