Sekilas Info

Menjaga Warisan Dunia, Menghidupkan Masyarakat: Masa Depan Toba Caldera UNESCO Global Geopark

Dua pelari Trail Of The King Ultra Trail de Mount Blanc (UTMB) 2026 melintas dengan pemandanga indah di daerah Pangururan, Samosir, Sabtu (13/6/2026). Diskominfo Sumut /Fahmi Aulia

Keistimewaan itu pula yang membawa Kaldera Toba masuk dalam jaringan UNESCO Global Geopark pada 2020. Kawasan ini mencakup 16 geosite yang tersebar di tujuh kabupaten, mulai dari Sipiso-piso di Karo hingga Pusuk Buhit dan Tomok di Samosir. Namun pengakuan internasional ternyata hanyalah langkah awal.

General Manager TCUGG, Azizul Kholis Bin Zainal, menegaskan bahwa Green Card UNESCO yang baru saja dipertahankan bukanlah penghargaan permanen, melainkan bentuk pengakuan yang harus dievaluasi secara berkala. “Tantangan terbesar kita adalah bagaimana tetap konsisten menjalankan prinsip konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat sesuai panduan Global Geopark Network,” ujarnya.

Bagi Azizul, persoalan utama justru terletak pada pemahaman masyarakat. Istilah geopark sendiri merupakan konsep yang diadopsi dari standar UNESCO, sementara warga lebih akrab dengan istilah pariwisata. “Padahal bagi geopark, pariwisata bukan tujuan utama. Yang utama adalah pelestarian kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya,” katanya.

Pelari Trail Of The King Ultra Trail de Mount Blanc (UTMB) 2026 melintas dengan pemandanga indah di daerah Pangururan, Samosir, Sabtu (13/6/2026). Diskominfo Sumut /Fahmi Aulia

Karena itu, pengenalan geopark mulai dimasukkan ke sekolah-sekolah di kawasan Danau Toba. Youth Geopark Kaldera Toba juga dibentuk sebagai wadah kolaborasi generasi muda lintas kabupaten. “Kami melihat geopark bukan hanya label UNESCO, tetapi warisan hidup. Tugas kami memastikan anak muda paham, peduli, dan terlibat aktif menjaganya,” kata aktivis muda Gito Pardede.

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6
Penulis: Dedy Hutajulu
Editor: Redaksi DailyKlik
Photographer: Dokumen Dailyklik

Baca Juga