Jangan Lupakan Pembangunan Sishankamrata?
Media massa juga memiliki peran besar dalam membentuk karakter nasional. Dengan menyuarakan nilai-nilai positif, mendidik, dan menginspirasi, media dapat menjadi alat untuk memperkuat identitas nasional dan membangun kesadaran akan pentingnya kebersamaan.
Dengan langkah-langkah ini, proses membangun bangsa dan meningkatkan karakter nasional bukanlah sekadar wacana, tetapi menjadi perjalanan panjang yang melibatkan setiap individu dan elemen masyarakat. Hanya dengan kerjasama dan kesadaran bersama, Indonesia dapat terus tumbuh sebagai bangsa yang kokoh, harmonis, dan bersatu.
BACA JUGA
Intelektual: Tradisional dan Organik?
Begitu juga, penguatan kerjasama erat antara TNI dan Polri menjadi pilar utama. Mereka, dengan segala perbedaan tugas dan tanggung jawabnya, bersatu dalam satu tekad untuk menjaga ketenteraman dan kedamaian. Dalam kebersamaan inilah tercipta sebuah keseimbangan, di mana kekuatan militer dan penegakan hukum saling melengkapi, membentuk benteng tak tergoyahkan di garis depan pertahanan negara.
Dengan ciri khas kearifan lokal yang mengalir dalam darah setiap anak bangsa, Sishankamrata tidak hanya berbicara tentang kekuatan senjata, tetapi juga tentang kearifan bersama. Ia menuntun kita untuk menatap masa depan dengan mata penuh harap, mengukir jejak kejayaan dan keamanan yang tak tergoyahkan. Inilah panggilan untuk menjaga dan mencintai negeri, karena di tangan bersatu inilah keutuhan Indonesia terwujud, seiring dengan melambainya Sang Merah Putih di langit yang biru.
Namun, sayang-seribu sayang, pada debat Calon Presiden (Capres) sesi Ketiga yang diselenggarakan KPU RI tadi malam (Minggu, 7 Januari) di Istora Senayan yang disiarkan secara langsung oleh TV Swasta nasional dan disaksikan oleh ratusan juta pasang mata rakyat Indonesia bahkan masyarakat dunia. Sayangnya para Capres hanya berdebat seputar persoalan “hard power” pertahanan saja dengan lingkup pengadaan Alutsista dan anggaran pertahanan tanpa menyentuh masalah soft power pertahanan khususnya bagaimana pekerjaan kita dalam membangun nation and character building melalui penguatan Sishankamrata.
Apa yang sudah dilakukan Presiden Jokowi pada periode kedua ini dengan menjalankan amanat UU Nomor 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara (PSDN) melalui program Komponen Cadangan (Komcad) hingga angkatan ketiga merupakan bentuk perhatian dalam pembangunan nation and character building, dimana pada angkatan I tahun 2021 sebanyak 3.103 orang, angkatan II tahun 2022 sebanyak 2.974 orang dan angkatan III tahun 2023 sebanyak 2.497 orang, sehingga total sudah dibentuk sebanyak 8.574 orang. Tentunya jumlah ini amatlah sedikit jika dibandingkan dengan rasio penduduk Indonesia dan kompleksitas ancaman pertahanan nasional.
BACA JUGA
[OPINI] Lukas Enembe Meninggal Akibat Sakit Bukan Dibunuh
Oleh karena itu, diharapkan Capres terpilih nantinya jangan lupakan pembangunan Sishankamrata kita dengan melanjutkan penguatan pembangunan soft power pertahanan nasional dengan rencana aksi penguatan postur pertahanan secara proporsional dan terukur serta komitmen kuat peningkatan sumberdaya manusia yang memiliki nilai-nilai adiluhung bangsa Indonesia dengan kecintaannya terhadap Negeri ini dan dapat lebih sensitif dalam pembangunan nation and character building ini sebagai bagian pembangunan kearifan lokal masyarakat Nusantara.
Dan ingatlah pepatah latin menyatakan “si vis pacem parabellum” yang berarti “jika kau mendambakan perdamaian, maka bersiap-siaplah menghadapi perang”.








Komentar