Politik Identitas Bukan Hal Tabu
Dalam menatap tahun politik 2024, konstituen perlu dibekali. Diberi bimbingan, edukasi, dan literasi politik. Mengajak mereka untuk membangun politik akal sehat. Rasional dalam menilai, sampai memilih figur yang layak dipilih sebagai pemimpin publik. Bukan memotong nalar pemilih dengan agitasi propaganda yang merusak.
Pemilih tidak dibelokkan kesadarannya, pada ruang-ruang sempit. Mengarahkan pemilih untuk berkonflik. Terlibat pada like and dislike. Pokoknya yang tidak boleh dipelihara dalam kultur demokrasi ialah cara berpolitik, dan cara memilih pemimpin yang terbangun atas sikap antipati terhadap satu kelompok. Sentimentil, lantas membangun semangat mendikotomikan pemilih.
Begitupun politisi, calon pemimpin yang akan tampil dalam Pemilu 2024. Tidak boleh membangun narasi pecah-belah. Hadir memberi contoh, teladan yang mempersatukan rakyat. Bukan menghasut rakyat lalu saling memelihara kebencian. Menyerang, menjatuhkan satu pihak. Lalu mengkultuskan satu pihak secara membabi-buta. Itu yang tidak demokratis namanya.
Kalau mau benar-benar demokratis. Antara yang dipilih dan pemilih, harus berada dalam satu frekuensi yakni mempunyai kesadaran saling menghargai keberagaman. Tidak boleh didistorsi nilai demokrasi yang kental dengan kemajemukan. Demokrasi itu berorientasi pada toleransi. Gotong royong akan hadir jika kita toleran. Saling menghargai keberadaan masing-masing pihak.
Bukan sok jagoan. Bukan merasa paling hebat, lantas menebar tuduhan massif dan ekstra terhadap pihak lain. Kalau berfikirnya benar-benar untuk membangun daerah, membangun negara, yang diutamakan itu spirit kolektif. Jangan hanya mengedepankan spirit kelompok. Ego sektoral.
Pada posisi tersebut, transformasi besar akan terwujud. Peradaban demokrasi yang begitu luas, akan berlahan melahirkan perbaikan. Konflik kepentingan dapat diatasi. Saling serang antara Cebong vs Kampret akan terminimalisir. Karena kita sudah mengetahui, pembelahan politik semacam ini diciptakan. Semua pihak mengambil bagian untuk mencari pundi-pundi rupiah.
Kurangilah tensi kampanye yang saling menuduh. Narasi yang menegaskan soal ‘politik nasionalis’, melawan ‘politik identitas’ tidak lagi dianggap produktif. Bentur-membenturkan sesama anak bangsa juga tak ada faedahnya. Dua kelompok politik ini bisa jadi mendapat untung. Namun, rakyat yang menerima buntungnya. Yang meninggalkan problem.








Komentar