Sekilas Info

Indahnya Ramadan di Negeri Kaum Minoritas

Masjid Cina Negeri Melaka.

Tidak ada pengecualian, apakah orang yang beriman itu dari kelompok mayoritas atau dari kalangan minoritas. Dengan begitu maka perintah wajib itu harus dijalankan di mana saja, kecuali jika memang ada udzur syar'i (halangan secara syariat).

Tidak ada beda antara Ramadhan tahun ini dengan satu hingga dua tahun sebelumnya. Tiga Ramadhan ini masih berlangsung dalam suasana pandemi.

Sebagian negara, termasuk Indonesia, memang sudah mengendorkan protokol kesehatan ketat COVID-19. Masjidil Haram di Mekkah sudah mulai lagi menerima jamaah umrah dari berbagai negara sejak sebelum Ramadhan tahun ini. Masjid-masjid di Indonesia juga sudah mulai membuka diri untuk jamaah shalat tarawih.

Tapi tidak dengan di China. Pintu masjid masih tertutup untuk umum seiring dengan makin banyaknya kasus baru Covid-19.

Bukan masjid saja, melainkan juga rumah ibadah agama lain juga tutup, apalagi sejak penambahan kasus harian di negara berpenduduk 1,4 miliar jiwa itu sudah mencapai lima digit.

Otoritas China masih teguh menerapkan kebijakan nol Covid-19 secara dinamis, meskipun sempat melonggarkan prokes. Shanghai masih lockdown untuk yang kesekian kalinya. Demikian pula dengan Beijing dan Provinsi Jilin yang juga mengalami lonjakan kasus.

Kasus Covid-19 di Hong Kong lebih parah lagi, sampai-sampai otoritas setempat menyatakan ketidaksanggupannya sehingga membutuhkan bala bantuan dari China daratan.

Prokes yang ketat itu bukan halangan bagi sekitar 20 juta jiwa Muslim di China daratan dalam menjalankan rukun Islam yang ketiga itu.

Demikian halnya bagi 60 ribu jiwa penduduk Taiwan yang Muslim ditambah 250 ribu pekerja Muslim dari Indonesia, Malaysia, dan berbagai negara lain yang bekerja di Taiwan.

Umat Islam lokal bersama dengan ribuan WNI Muslim yang tinggal di China daratan, Hong Kong, dan Taiwan menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan penuh khidmah.

Selanjutnya 1 2 3 4
Penulis:
Editor: Redaksi
Photographer: Istimewa

Baca Juga