Putus Sekolah Picu Masalah Sosial di Belawan
Dalam paparannya, Baringin Lumbangaol menceritakan, bagaimana perjuangan sejumlah sosok hebat dari daerah kumuh di Belawan, yang kemudian tampil menjulang dalam kiprahnya di berbagai bidang, seperti Dede Atika, perawat yang turut berjuang melawan pandemi COVID-19 di Rumah Sakit Wisma Atlet.
Alfi Musaitir yang bisa mengejar impiannya sekolah pelayaran di Politeknik Pelayaran Malahayati, Aceh atau Muhammad Andre yang rajin memulung untuk membiayai pendidikannya agar kelak bisa jadi pilot.
Melalui buku ini, penulis juga mengulas sepak terjang GNI dalam penguatan pemberdayaan masyarakat di Belawan. Hadirnya Kelompok Gempita (Gerakan Masyarakat Pintar) Belawan, binaan GNI telah membawa banyak perubahan signifikan.
Diantaranya, masyarakat mulai terlibat koperasi, bank sampah, adanya satgas antianak putus sekolah, layanan pangan online dan penguatan ketahanan pangan melalui budidaya lele dalam ember. "Semua upaya itu dilakukan dalam rangka mencegah anak putus sekolah," terang Dedy.
Sarah Emma Bangun, perwakilan Dinas Perpustakaan Kota Medan menyambut baik kerja sama dengan GNI ini. Dan tahun depan (2022), katanya, pihaknya akan kembali mengaktifkan penggunaan mobil perpustakaan keliling.
"Kami sempat nonaktif karena pandemi Covid-19. Tapi tahun depan, akan kembali kami aktifkan. Silakan buat usulan, nanti kami bisa kunjungi sekolah-sekolah, agar anak-anak bisa membaca beragam buku," terang Sarah.
Sementara, Vindika, perwakilan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DP3APM) Kota Medan menyebut, bahwa persoalan sosial ini sudah bertahun-tahun terjadi tetapi tidak kunjung bisa dituntaskan.
Namun DP3APM bersedia bekerja sama dan akan merangkul semua pihak untuk turut terlibat menyelamatkan anak dari angka putus sekolah.
Lurah Belawan 2 Yose Ferry juga menuturkan bahwa di wilayah kerjanya terdapat sedikitnya 4.000 warga miskin yang tentu saja menyumbang tingginya angka anak putus sekolah. Ferry mengatakan kolaborasi dengan GNI penting sekali diteruskan untuk menggiatkan edukasi dan pemberdayaan masyarakat.
"Kami mendukung apa yang dikerjakan GNI. Kami dari kelurahan akan terus mendukung upaya-upaya yang dikerjakan GNI," sebutnya.
Project Manajer GNI Medan Deli Serdang Anwar Suhut mengatakan, perlu ada dukungan yang lebih konkret dari berbagai pihak, utamanya stakeholder dalam rangka upaya menyelamatkan anak dari persoalan-persoalan sosial seperti narkoba, tawuran, perkawinan anak dan bajing loncat di Belawan.
"Di tahun mendatang, GNI akan menguatkan kerja sama dengan seluruh stake holder untuk mencegah anak putus sekolah," imbuhnya.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Taput Fendiv Lumbantobing mengapresiasi pembuatan buku tentang anak-anak Belawan ini.

Fendiv melihat, persoalan sosial ini bukan hanya terjadi di Belawan tetapi juga di daerah-daerah, termasuk daerah yang saat ini sedang serius mengembangkan sektor pariwisatanya, seperti daerah di kawasan Danau Toba yang kini membuka diri pada dunia luas, juga berpotensi mengalami masalah sosial.
"Kami KPAID Taput ingin menerapkan apa yang dikerjakan GNI ini, agar hal-hal seperti yang dialami anak-anak Belawan ini tidak terjadi di Taput," pungkasnya.








Komentar