Sekilas Info

Mangrove Adalah Kehidupan

Menanam bakau di sepanjang bibir pantai

Dari lumpur Gambus Laut, Azizi membesarkan keluarga, melawan abrasi, dan menyiapkan generasi baru penjaga pesisir Batu Bara.

PUKUL DELAPAN PAGI, Azizi lebih dulu memandang laut. Matanya membaca alam, memastikan apakah air akan segera pasang atau masih memberi waktu bagi mereka untuk bekerja. Menanam mangrove, bagi lelaki 59 tahun itu, berarti mengikuti jam kerja alam.

Setelah memastikan air belum pasang, Azizi bersama istrinya, Supriana, dan kedua anaknya, Nazli Aulia serta Abiel Mihzam, turun ke lumpur pesisir Gambus Laut. Mereka membawa parang, propagul, ajir kayu, dan gulungan tali rafia.

Di kepalanya, kopiah putih yang hampir tak pernah lepas menjadi penanda yang mudah dikenali warga. Lengannya yang legam oleh matahari bergerak lincah menancapkan ajir satu demi satu, seperti seseorang yang telah menghafal setiap jengkal lumpur tempatnya berpijak sejak kecil.

Lumpur itu tak selalu ramah. Di beberapa titik hanya setinggi mata kaki, tetapi di tempat lain bisa mencapai lutut, bahkan paha. Namun medan seperti itu telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga yang tumbuh bersama hutan bakau.

Mengenakan kopiah putih, Azizi duduk bersila di tengah hutan mangrove yang dia rawat bertahun-tahun.

Azizi menancapkan ajir sebagai penahan propagul muda agar tidak hanyut diterjang pasang surut. Dengan tali rafia, bibit-bibit itu diikat secukupnya—cukup kuat untuk bertahan, namun cukup longgar agar batang mudanya tidak terluka. Sebelum akar tunjang tumbuh sempurna, setiap kehidupan baru membutuhkan penopang.

Empat hingga lima jam mereka berjibaku di lumpur, mengikuti irama laut. Begitu air mulai naik, pekerjaan harus dihentikan. Sebab, bagi Azizi, manusialah yang harus menyesuaikan diri dengan alam, bukan sebaliknya.

Ada masa ketika Azizi kecil tidak mengenal kata mangrove. Yang ia tahu hanyalah hutan bakau. Di sanalah masa kecilnya tumbuh.

Kaki kecilnya lincah berlari di antara akar-akar bakau yang menjulur seperti jemari raksasa yang mencengkeram lumpur. Di sela-selanya, kepiting dan udang bersembunyi. Itulah taman bermain terindah bagi anak-anak pesisir Gambus Laut.

Orang tuanya jarang memberi uang jajan. Namun itu bukan masalah besar. Bersama teman-temannya, Azizi membawa tangkol dan masuk ke rimbunan bakau untuk menangkap kepiting dan udang.

Sekali tangkul, mereka bisa memperoleh tiga hingga empat kilogram kepiting besar. Seekor kepiting bahkan dapat mencapai berat satu kilogram. Hasil tangkapan itu dijual, lalu ditukar dengan jajanan.

"Dulu kepiting besar sangat banyak. Kepiting kecil tidak laku karena terlalu banyak. Sekarang mendapatkan kepiting kecil saja susah," kenangnya.

Rerimbunan hijau hutan mangrove yang tumbuh membentang di sepanjang bibir pantai di Batu Bara

Hutan bakau bukan sekadar bentang alam bagi anak-anak pesisir Batu Bara. Ia adalah taman bermain, dapur kehidupan, sekaligus sekolah pertama yang mengajarkan hubungan manusia dengan laut. Namun, semua itu perlahan berubah.

Selanjutnya 1 2 3 4
Penulis: Dedy Hu
Editor: Redaksi DailyKlik

Baca Juga