AI Nasional: Ambisi Besar, Digital Dasar Belum Beres
Keempat, infrastruktur digital yang belum merata. Ya, tidak dapat dipungkiri bahwa akses internet masih belum merata di Indonesia, padahal infrastruktur digital merupakan hal dasar dan penting sebelum menciptakan AI. APJII menyatakan bahwa tingkat penetrasi internet di Indonesia sudah mencapai angkat sekitar 79% atau sekitar 200 juta orang yang sudah menggunakan inernet.
Namun masih ada masalah dengan daerah 3T (Teringgal, Terdepat, Terluar) dimana tingkat penetrasi internetnya hanya sekitar 67% saja. Belum lagi kerugian negara sebesar 8 triliun rupiah yang diakibatkan oleh korupsi menara BTS 4G yang mengakibatkan pemerataan internet ke daerah terpencil menjadi semakin sulit. Ini membuktikan bahwa lemahnya tata kelola proyek teknologi di Indonesia. Meski dengan dana sebesar itu seharusnya seluruh Indonesia sudah mampu mengakses internet dengan mudah.
Kelima, Indonesia masih sering mubazir dalam upaya menjadikan Indonesia lebih maju. Contohnya saja, sistem Coretax untuk memudahkan sistem perpajakan Indonesia, dimana biaya pembuatannya sangat masif. Tetapi kemudian apakah sistemnya mampu berjalan dengan baik? Nyatanya tidak.
Bahkan sistem penting dalam website saja oleh Coretax masih belum dapat terpenuhi, mulai dari login yang sulit, dan akses ke halaman website yang sering error. Bagaimana pula nasib model LLM jika akhirnya dibangun? Sepertinya akan tersandera mentalitas kita yang hanya asal jadi, lalu mubazir.
Keterbelakangan kita dalam hal teknologi seharusnya membuka mata kita. Sebagai masyarakat awam, sudah seharusnya kita melek teknologi. Begitu banyak hal yang bisa dilakukan jika kita melek teknologi, seperti mencari pekerjaan dari luar negeri, freelance, remote working, bahkan beasiswa dari luar negeri. Belajar juga menjadi lebih mudah jika kita melek teknologi. Sekarang ini, apa yang AI tidak bisa jawab dalam pelajaran kita di sekolah atau di kampus? Dapat dikatakan, jika memiliki akses pada AI, kemampuan kita pun meningkat.








Komentar