Dua Wartawan Australia Menembus Papua Barat, Raih Penghargaan Jurnalisme
Militan Papua juga menyerang rumah sakit Kiwirok, membakar rumah sakit dan asramanya serta dua klinik kecil. Mereka diduga memukuli tiga perawat perempuan dan dua perawat laki-laki. Jenazah perawat Gabriella Meilani ditemukan dua hari kemudian.
Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat mengatakan mereka hanya menyerang pos keamanan serta bantu "mengamankan perawat Gerald Sokoy," yang melarikan diri selama serangan dan dijemput oleh pemerintah setempat dua minggu setelah serangan dan kembali ke rumah.
Serangan tersebut membuat pihak Indonesia melancarkan serangan udara, termasuk dengan helikopter dan drone, terhadap Kiwirok. Pada 10 Oktober, militer Indonesia mengerahkan helikopter Angkatan Udara menjatuhkan 14 mortir buatan Serbia di Kiwirok, dan panglima Indonesia di Papua, Mayjen Yogo Triyono, mengakui pengeboman tersebut namun membantah bahwa bom diarahkan ke masyarakat sipil.
Menurut organisasi hak asasi manusia setempat, sekitar 1.000 keluarga telah melarikan diri dari Kiwirok ke Oksibil, ibu kota kabupaten tersebut. Diperkirakan 180 keluarga telah melarikan diri melintasi perbatasan ke Papua Nugini. Banyak yang kekurangan makanan, tempat tinggal, dan bantuan medis.
Pada 25 Oktober, militan menembak mati seorang polisi Indonesia dalam baku tembak di Kiwirok. Yogo Triyono menekankan bahwa pemerintah Indonesia perlu melakukan "dialog politik" untuk menyelesaikan masalah keamanan di Papua. Ia mengatakan bahwa para prajuritnya juga mulai "lelah dengan baku tembak.








Komentar