Pemuda (Harusnya) Memandang Pilkada
Oleh karena itu diperlukan seorang pemimpin perlu untuk menyesuaikan dengan generasi yang mereka pimpin (Bhagawanta, 2019).
Di samping itu, ada tujuh karakteristik unik pemimpin Indonesia di pemerintahan daerah. Pertama, sebagian besar individu paruh baya. Kedua, kebanyakan pria. Ketiga, agama dan kesukuan merupakan faktor esensial dari elektabilitas kepala daerah. Keempat, kebanyakan dari mereka sangat tinggi berpendidikan.Kelima, banyak dari mereka berasal dari pejabat pemerintah.
Enam, mereka aktif mengikuti berbagai organisasi. Ketujuh yang sangat amat penting, mereka juga sangat berpengalaman dalam bidang pemerintahan. Karakteristik pemimpin Indonesia dapat saling terkait satu sama lain. Pemimpin Indonesia tidak hanya berpendidikan tinggi tetapi juga berpartisipasi aktif berbagai organisasi dan memiliki pengalaman yang luas dalam peran kepemimpinan dan sektor pemerintah terkait lainnya (Angkawibawa dan Rezki, 2023).
Pemilih muda harus mampu menilai seorang kontestan dari kacamata “policy-problem solving”, yaitu sejauh mana para kontestan mampu menawarkan program kerja atas solusi bagi suatu permasalahan yang ada, juga memiliki kepekaan terhadap masalah nasional dan kejelasan program kerja.
Hal tersebut harus dapat dibuktikan dari seberapa pengalaman yang dimiliki. Meneladani Mohammad Hatta, bahwa pemimpin harus bertanggung jawab atas tindakannya, dan demokrasi tidak hanya memilih figure yang terbaik, yaitu tidak semata memiliki nilai dan daya ikat emosional (seperti sisi personal figur seorang pemimpin). Tetapi, demokrasi juga melihat nilai fungsional, yakni terkait gagasan dan kemampuan dalam mengatasi ragam persoalan dalam dan luar negeri.
Kesadaran politik pemilih muda perlu dijaga bahkan ditingkatkan pada Pemilu 2024 dengan cara antara lain mengakomodasi tuntutan pemilih diberikan hak bersuara secara LUBER dan JURDIL agar dalam pelaksanaan Pemilu 2024 dapat bermakna serta memenuhi syarat dari segi kualitatif maupun kuantitatif.
Perlu adanya upaya program paradigmatik, lebih kreatif dan produktif dari para penyelenggara pemilu. Selain itu upaya sosialisasi dan pendidikan politik yang dilakukan oleh peserta pemilihan lebih massif dalam melakukan pertukaran gagasan terkait visi dan misi program pembangunan, mengingat pemimpin masa depan Indonesia khususnya daerah haruslah dapat menggunakan segala kekuatan dan mengatasi kelemahannya untuk menghadapi tantangan dan peluang di masa mendatang.
Harapan penulis adalah selain mengingatkan untuk diri sendiri semoga ini bisa menjadikan pesan dan harapan untuk para pemuda di pilkada mendatang bahwasaanya jangan sampai golongan muda yang seharusnya menjadi generasi penerus dijadikan hanya sebagai komoditas politik semata tanpa didengarkan suaranya dan diperankan keberadaannya.
Sosok yang hadir haruslah seorang yang memiliki kaliber pemimpin yang memiliki track record baik dan pengalaman mempuni (qualified) dan terbukti (proven). Selain daripada itu bagi siapapun yang akan berkontestasi pada pilkada mendatang harus mampu mengejawantahkan pemikiran dan keresahan dari pemuda karena percayalah bahwasannya pemuda hari ini menawarkan sebuah gagasan atas dasar keresahan khalayak umum untuk kemajuan bersama. (*)
¹Penulis adalah Mantan Aktivis HMI Banten








Komentar