Kader PKK Desa Perguroan Belajar Mediasi Konflik Antar Warga
Tujuan kegiatan tersebut sebagai upaya peran kader PKK untuk merawat perdamaian serta mengurangi terjadinya konflik warga. Peserta yang di dominasi kaum perempuan tersebut sangat antusias mengikuti pelatihan sejak pagi hingga sore hari.
Di awal acara tersebut peserta di ajak belajar mengenali ilustrasi orang tua yang bijak dalam menghadapi Konflik, dimana kedua anaknya berebut jeruk manis, dengan tidak mengambil keputusan untuk penyelesaian konflik.
Namun sebagai orang tua berperan secara bijak dengan bertanya kepada kedua anaknya apa yang di harapkan, dan apa yang di inginkan dengan jeruk tersebut, sedang keputusan tetap di serahkan kepada dua anak yang tengah berkonflik.
Baca juga: Menghadapi Ancaman Kehilangan Generasi Unggul, Pentingnya Pemberian ASI Eksklusif di Indonesia
Baca juga: Kenali Manfaat Nutrisi Esensial yang Mampu Optimalkan Tumbuh Kembang Si Kecil
Bukan keputusan yang di buat oleh orang tuanya sebagai mediator. Namun orangtua hanya sebagai mediator.
Alumni peserta pelatihan mediator PUSAD PGI, Dwi Supriono, turut hadir sebagai fasilitator tunggal dalam kegiatan tersebut, dalam sesi diskusi mengajak para kader PKK untuk memahami pengertian mediasi melalui curah pendapat.
Lalu dilanjutkan dengan menjelaskan peran para pihak, cara menyampaikan tahapan mediasi dan menyampaikan kode etik mediator yang dapat di gunakan dan disesuaikan sebagai upaya mediasi konflik warga di lingkungan nya.
Di sela penutupan acara penguatan Kapasitas Kader PKK melalui Belajar Mediasi, para kader PKK di ajak bermain peran gempa, orang dan rumah.
Baca juga: Indonesia Darurat Literasi, Eka Bersama Ngobrol Buku Hadir Tawarkan Solusi
Patut diketahui, terselenggaranya kegiatan ini turut mendapat dukungan dari PGI yang merupakan bagian dari rencana tindak lanjut (RTL) pelatihan mediator yang telah di selenggarakan oleh PUSAD PGI pada tanggal 18 hingga 22 September 2023 lalu di Medan.
Kegiatan ini diakhiri dengan sesi foto bersama antara peserta Kader PKK dengan mentor Dwi Supriono dan para perangkat Desa Perguroan.









Komentar