Belajar Kelas Jauh
Ombudsman Sidak ke Sebuah SD Terpencil di Paluta, Kondisinya Memprihatinkan
Baca juga: Sebagian Besar Pemda Belum Mengetahui JETP, Peneliti CELIOS: Pemda Terancam Kehilangan PAD
Baca juga: Kolaborasi ASDP dengan Darwinbox Menuju Arah Baru Keunggulan SDM di Sektor Maritim
Sebetulnya, lanjut Dedi dan Riki, jumlah siswa/i di SD Negeri 100420 filial ini justru lebih banyak dibanding di sekolah induk.
"Saat ini siswa di SD Kelas Jauh (filial) ini sebanyak 41 orang. Sementara jumlah siswa di SD Induk hanya 17 orang. Jadi, sangat beralasan bagi Pemkab Paluta menetapkan SD Negeri Kelas Jauh (Filial) Desa Singanyal ini sebagai sekolah baru," harap Mahyudin.
Infrastruktur Buruk
Selain itu Para orang tua siswa juga mengaku, pendirian sekolah jarak jauh (filial) ini berawal pada tahun 2009. Ini disebabkan terlalu jauhnya sekolah induk dari perkampungan penduduk.
Baca juga: Kabur Usai Menganiaya Kades, Residivis “Neraka” Diciduk Tim Buser Polres Alor
Baca juga: Tim Nanggala Tembak Mati 5 Separatis Papua di Pegunungan Bintang, 3 Senjata Ikut Disita
"Jarak perkampungan penduduk ke sekolah induk SD Negeri 100420 Desa Singanyal, mencapai 10 Km. Sementara kondisi infrastruktur jalan sangat rusak parah," ungkap Mahyudin.
Jalan menuju sekolah induk tersebut, bertanah liat. Sehingga sangat licin. Apalagi bila musim hujan, jalan tersebut tidak bisa lagi dilalui. Menurut Mahyudin, inilah yang menyebabkan masyarakat berswadaya membangun gedung sekolah pada tahun 2009 untuk membuka kelas filial.









Komentar