Belajar Kelas Jauh
Ombudsman Sidak ke Sebuah SD Terpencil di Paluta, Kondisinya Memprihatinkan
Dedi menjelaskan, gedung sekolah sederhana berdinding papan dan beratap seng tersebut, merupakan pengganti gedung sekolah lama yang sempat viral akibat nyaris tidak berdinding dan tidak beratap.
"Lokasi gedung lama masih di Desa Singanyal ini," jelasnya.
Menurut Mahyudin Nasution, karena ada masalah dengan pemilik lahan pertapakan di lokasi gedung lama, akhirnya masyarakat sepakat memindahkan gedung sekolah tersebut.
"Tempatnya ya di sini, di Simpang PT ini. Tanah pertapakannya saya hibahkan," tegasnya.
Baca juga: Digelar Keuskupan Agung Medan, Disnaker: Job Fair Upaya Mengurangi Pengangguran
Baca juga: Dana Bantuan Wakapolri Rp600 Juta kepada Komunitas Wartawan Medan Dipertanyakan
Mahyudin menuturkan bahwa pembangunan gedung sekolah baru ini atas swadaya masyarakat.
"Tanah pertapakannya saya hibahkan. Lalu, warga lain ada nyumbang seng, papan, dll. Akhirnya, jadilah seperti ini. Hanya dua ruang kelas. Itupun masih ada warga yang berutang karena menyumbang untuk membangun gedung sekolah ini," katanya.
Berharap Sekolah Baru
Baik Dedi, Riki, Manahan dan Mahyudin serta para orangtua siswa, berharap agar Pemkab Paluta menetapkan sekolah Kelas Jauh (filial) ini sebagai sekolah baru. Artinya benar benar berdiri sendiri dan tidak lagi berinduk pada sekolah induk SD Negeri 100420 Desa Singanyal.









Komentar