Sekilas Info

Hanya 36,1% Anak Kelas 3 SD di Papua Memiliki Keterampilan Literasi

Monita bersama anak-anak di Rumah Baca dampingan WVI di Papua. (ft. WVI)

Pengawasan sekolah juga terhambat karena pengawas di Biak sudah pensiun. Menurut data WVI, hanya 40,9% anak kelas 3 SD di Biak yang memiliki keterampilan membaca dan memahami bacaannya (tahun 2022).

Kampung Literasi (KL) merupakan sebuah intervensi kolaboratif antara WVI dan para pemangku kepentingan di kampung, termasuk anak-anak, orang tua/pengasuh, perangkat kampung, institusi keagamaan, masyarakat, dan pemerintah.

Tujuan dari KL adalah meningkatkan akses anak-anak pada kegiatan literasi berkualitas di kampung-kampung di daerah 3T. Diharapkan, hal ini akan meningkatkan persentase anak-anak usia sekolah dasar di Papua yang mampu membaca dan memahami bacaan mereka.

Baca juga: Mengatasi Stigma Negatif terhadap Pendidikan Kesetaraan

Beberapa tokoh publik seperti Monita Tahalea, Hope Ambassador WVI, dan Gaby Cristy, Duta Kampanye Baca Tanpa Batas, telah mendukung kampanye ini. Monita baru-baru ini berkunjung ke Biak dan menyampaikan pengamatannya tentang kesulitan anak-anak di sana dalam mengeja nama mereka sendiri.

Menurutnya, pengenalan akan identitas diri sangat penting, karena anak-anak yang mengetahui identitas mereka akan memiliki jiwa kepemimpinan dan tidak takut bertanya.

Monita juga menyoroti kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak di Papua, dan menekankan bahwa dengan memiliki keterampilan literasi, anak-anak ini dapat memahami identitas mereka, memiliki wawasan yang luas, mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta memiliki mimpi untuk hidup yang lebih baik.

Baca juga: Transformasi Pendidikan Pascapendemi untuk Menghasilkan Pemimpin Masa Depan

Gaby Cristy, Joanna Alexandra, Sidney Mohede, Becky Tumewu, Kezia Aletheia, dan Jovial Da Lopez adalah beberapa figur publik lainnya yang turut mendukung kampanye ini. Jovial Da Lopez berharap agar anak-anak Papua dapat mencapai potensi maksimal mereka.

Ia menekankan bahwa penting untuk memberikan kesempanan kepada mereka tanpa harus menyamaratakan dengan anak-anak di pulau Jawa atau negara-negara barat. Yang penting adalah memberikan tempat dan kondisi yang memungkinkan mereka untuk mencapai potensi maksimal.

Selanjutnya 1 2 3 4
Penulis: Dedy Hutajulu
Editor: Redaksi

Baca Juga