Sekilas Info

Asal (dari) Menyuntik

Gusti Omkang Hingmane

“Aduh…. Dia pu menangis ni ngerilah. Dia menangis karena tidak mau disuntiklah”, jelas ibunya setelah mendengar cerita itu dari gurunya saat berada di sekolah bersama wali kelasnya.

“Itu na, jangan suntik ko”, pintah guru itu ke wali kelasnya, terang ibunya lagi.

Ayahnya semakin panas. Malam itu juga, ayahnya mau menghubungi wali kelasnya. Rasa ingin protesnya sangat kuat. Dalam pikiran ayahnya, mana mungkin, kerja sama antar lembaga tanpa ada informasi secara resmi. Informasi resmi yang masuk seharusnya juga disampaikan kepada orang tua siswa untuk diketahui atau dirapatkan bersama. Bukan semena-mena, buat sesuka hati. Suntik sesuka hati. Kalau terjadi hal yang fatal, bagaimana? Bisa dipertanggungjawabkan?

Anak-anak SD kelas 1, rata-rata berumur 6 tahun. Usia ini perlu perhatian serius. Kalau disuntik, ketika dipaksa, ya, tentunya hanya menangis. Seharusnya, anak-anak yang menangis itu, dipahami dengan baik oleh pihak sekolah, bahwa anak itu tidak mau. Bukannya memaksa. Menangis pun dipaksa suntik.

***

Pagi berikutnya, ayahnya beranjak ke rumah salah seorang guru dari sekolah itu. Ayahnya mau menumpahkan isi hatinya ini kepadanya.

“Selamat pagi, ibu guru”

“Selamat, pagi juga, Bapak. Bagaimana ya, pak? Ada yang bisa dibantu?”, tanya gurunya

“Ibu, kasihan, ya, anak-anak menangis dipaksa suntik”

“Itu, su, pak”

“Seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bersama, maka, mungkin, hari ini kita ketemu di kantor polisi”, tegas ayahnya.
Suasana agak hening seketika ketika pernyataan itu dilontarkan.

Selanjutnya 1 2 3 4
Penulis: Gusti Omkang Hingmane
Editor: Redaksi
Photographer: Istimewa

Baca Juga